Kelembagaan Masyarakat

Proses Tumbuhnya Lembaga

Aktivitas manusia baik sadar maupun tidak, disengaja maupun tidak dalam memenuhi kebutuhan hidup selalu diulang-ulang.  Akhirnya aktivitas tersebut melekat dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan serta mengatur aktivitas manusia itu sendiri (menjadi norma). Aktivitas manusia yang berulang-ulang dan menjadi bagian dari manusia itu sendiri: terbentuk—tumbuh– berkembang —berubah—mati —berganti— terbentuk yang baru dst.

Jejaring dan Pengaturan Sosial

Jejaring sosial komunitas lebih ditunjukkan bahwa ada ikatan dan simpul-simpul sosial yang membangun kohesi sosial (Barnes,1961). Jejaring sosial kini dipandang, sebagai ikatan dan simpul sosial itu bukanlah pada individu sebagai aktor, tetapi lebih pada hubungan-hubungan antar individu (social relationships). Pandangan ini tadi  berguna dalam menjelaskan bahwa keberhasilan individu sebagai simpul ditentukan oleh luasan ikatan yang dapat dikembangkan oleh individu itu sendiri.  Simpul-simpul sosial itu tidak hanya individual, tetapi mencakup juga organisasi sosial (dari yang tradisional sampai yang kompleks) yang dilintasi oleh individu.  Jejaring sosial yang diperankan oleh individu dan melintas ragam organisasi sosial itu, selanjutnya menentukan proses-proses sosial (Wasserman and Faust, 1994; Hill and Dunbar, 2002).  Bahkan diperkirakan pada masa depan masyarakat di pelosok dunia karena pengaruh “daya atur” dan pembentukan sosial global akan berkonstruksi menjadi “masyarakat jejaring” atau network society (Castel, 2001).  Bahkan,  jejaring sosial ini akan menjadi strategis dalam konteks perubahan tata pemerintahan dalam konteks tata dunia pada masa depan (Fukuyama, 2005).

Jejaring sosial komunitas lebih ditunjukkan bahwa ada ikatan dan simpul-simpul sosial yang membangun kohesi sosial (Barnes,1961). Jejaring sosial kini dipandang, sebagai ikatan dan simpul sosial itu bukanlah pada individu sebagai aktor, tetapi lebih pada hubungan-hubungan antar individu (social relationships). Pandangan ini tadi  berguna dalam menjelaskan bahwa keberhasilan individu sebagai simpul ditentukan oleh luasan ikatan yang dapat dikembangkan oleh individu itu sendiri.  Simpul-simpul sosial itu tidak hanya individual, tetapi mencakup juga organisasi sosial (dari yang tradisional sampai yang kompleks) yang dilintasi oleh individu.

Jejaring sosial yang diperankan oleh individu dan melintas ragam organisasi sosial itu, selanjutnya menentukan proses-proses sosial (Wasserman and Faust, 1994; Hill and Dunbar, 2002).  Bahkan diperkirakan pada masa depan masyarakat di pelosok dunia karena pengaruh “daya atur” dan pembentukan sosial global akan berkonstruksi menjadi “masyarakat jejaring” atau network society (Castel, 2001).  Bahkan,  jejaring sosial ini akan menjadi strategis dalam konteks perubahan tata pemerintahan dalam konteks tata dunia pada masa depan (Fukuyama, 2005).

Menurut Soerjono Soekanto (1982), terdapat empat tingkatan norma, yaitu:

1. Usage (cara perbuatan). Diketahui bersama, mengatur hubungan antar individu, yang melanggarnya hanya dikecam. misalnya: berdecak waktu makan, dikecam oleh orang disampingnya, sebab tidak pantas.

2. Folkways (kebiasaan) ialah pola perbuatan yang terjadi karena terus diulangulang, dan diterima sebagai cara umum. Yang melanggarnya, dikecam oleh banyak orang. Misalnya, cara memberi hormat kepada orang yang lebih tua.

3. Mores (tata kelakuan) ialah jika kebiasaan itu telah berubah menjadi pengatur kelakuan. Mores mempunyai dua fungsi ialah memberi keharusan dan memberi larangan. Mores juga merupakan alat pengawasan perikelakuan anggota masyarakat. Siapa melanggar, dihukum oleh seluruh anggota masyarakatnya. Mores berguna untuk:

  • Memberi batas kelakuan yang dibolehkan dan yang tidak.
  • Mengintegrasikan individu kedalam kelompoknya dan memaksa kelompok untuk mengakui keteladanan individu yang berjasa sebagi pahlawannya.
  • Menjaga keutuhan, kerjasama dan solidaritas antara sesama anggotanya.

4. Customs (adat istiadat) Ialah jika mores itu telah diabadikan, ditaati sepenuhnya, dan tak dibiarkan orang melanggarnya tanpa sangsi yang setimpal. Ia merupakan warisan turun temurun tanpa sentuhan perubahan.

Ciri-ciri umum dari pada lembaga sosial (kemasyarakatan), menurut Gillin and Gillin (Soerjono Soekanto, 1982) adalah sebagai berikut:

1. Suatu lembaga kemasyarakatan adalah suatu organisasi dari pada pola-pola pemikiran dan pola-pola perikelakuan yang terwujud melelui aktivitas-aktivitas kemasyarakatan dan hasil-hasilnya. Lembaga kemasyarakatan terdiri dari unsur-unsur kebudayaan lainnya yang secara langsung maupun tidak langsung tergabung dalam satu unit yang fungsional.

2. Suatu tingkat kekekalan tertentu merupakan ciri dari semua lembaga kemasyarakatan. Sistem-sistem kepercayaan dan aneka macam tindakan, baru menjadi bagian lembaga kemasyarakatan setelah melewati waktu yang relatif lama. Misalnya suatu sistem pendidikan tertentu baru akan dapat diterapkan seluruhnya, setelah mengalami suatu percobaan. Lembaga-lembaga kemasyarakatan biasanya juga berumur lama sekali, oleh karena pada umumnya orang menganggapnya sebagai himpunan norma-norma yang berkisar pada kebutuhan pokok masyarakat yang sudah sewajarnya harus dipelihara.

3. Lembaga kemasyarakatan mempunyai satu atau beberapa tujuan tertentu. Mungkin tujuan-tujuan tersebut tidak sesuai atau sejalan dengan fungsi lembaga yang bersangkutan, apabila dipandang dari sudut kebudayaan secara keseluruhan. Misalnya pada waktu Hitler berkuasa di Jerman, gerakan pemuda itu bertujuan untuk menyempurnakan kesehatan jasmaniah pemuda-pemuda tersebut adalah untuk meninggikan solidaritas pemuda-pemuda didalam suatu Negara yang totaliter. Pembedaan antara tujuan dengan fungsi sangat penting oleh karena tujuan suatu lembaga adalah suatu tujuan pula yang harus dicapai oleh golongan masyarakat tertentu dan golongan masyarakat bersangkutan pasti akan berpegang teguh padanya. Sebaliknya, fungsi sosial lembaga tersebut, yaitu peranan lembaga tadi dalam sistem sosial dan kebudayaan masyarakat, mungkin tak diketahui atau disadari golongan masyarakat tersebut dan mungkin fungsi tersebut baru disadari setelah diwujudkan dan kemudian ternyata berbeda dengan tujuannya Umpamanya lembaga perbudakan, ternyata bertujuan untuk mendapatkan tenaga buruh yang semurah-murahnya, akan tetapi didalam pelaksanaanya biayanya ternyata sangat mahal. Suatu contoh lain adalah lembaga persaingan bebas dalam kehidupan ekonomi yang bertujuan agar produksi berjalan secara efektif oleh karena para individu akan diperolehnya kepada orang-orang yang mempunyai pengaruh serta mengetahui cara-caranya.

4. Lembaga kemasyarakatan mempunyai alat-alat perlengkapan yang dipergunakan untuk mencapai tujuan lembaga yang bersangkutan, seperti misalnya bangunan, peralatan mesin-mesin dan sebagainya. Bentuk serta penggunaan alat-alat tersebut bviasanya berlainan antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya.

5. Lambang-lambang biasanya juga merupakan ciri yang khas dari lembaga kemasyarakatan. Lambang-lambang tersebut secara simbolis menggambarkan tujuan dan fungsi lembaga yang bersangkutan. Sebagai contoh, kesatuan-kesatuan Angkatan Bersenjata, masing-masing mempunyai panji-panji; perguruan-perguruan tinggi seperti Universitas, Institut dan lain-lain lagi. Kadang-kadang lambang tersebut berwujud tulisan-tulisan atau slogan-slogan.

6. Suatu lembaga kemasyarakatan, mempunyai suatu tradisi yang tertulis ataupun yang tak tertulis, yang merumuskan tujuannya, tata-tertib yang berlaku dan lain-lain. Tradisi tersebut, merupakan dasar bagi lembaga itu didalam pekerjaannya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok dari pada masyarakat, dimana lembaga kemasyarakatan tersebut menjadi bagiannya.

Prespektif Bahasa, Budaya dan Negara

  • Bahasa :  Institute  (wujud konkrit) dan Institution (wujud abstrak)
  • Budaya : Collective Action in Control—pengawasan, pengendalian, pembatasan perbuatan seseorang oleh tindakan kolektif dengan sanksi bagi pelanggar
  • Negara : Organisasi pelayanan bagi masyarakat (publik)

Perbedaan Lembaga, Asosiasi dan Organisasi

Lembaga: kumpulan norma universal

Asosiasi  : bentuk konkrit lembaga dan khusus

Organisasi : wadah melaksanakan lembaga—tujuan yang formal

Penggolongan kelembagaan menurut pemenuhan kebutuhan (Koentjaraningrat, 1979) :

  1. Kelembagaan Kekerabatan/Domestik–>kehidupan kekerabatan
  2. Kelembagaan Ekonomi–>pencaharian hidup, memproduksi, menimbun, mendistribusikan harta,
  3. Kelembagaan Pendidikan–>penerangan dan pendidikan
  4. Kelembagaan Ilmiah–>ilmiah manusia dan menyelami alam semesta
  5. Kelembagaan Estetika dan Rekreasi–>menyatakan rasa keindahannya dan rekreasi
  6. Kelembagaan Keagamaan–>manusia untuk berhubungan dengan Tuhan atau alam gaib
  7. Kelembagaan Politik–>mengatur kehidupan kelompok secara besar-besaran atau kehidupan bernegara
  8. Kelembagaan Somatik–>jasmaniah manusia

Penggolongan kelembagaan berdasar lokalitas (Uphoff, 1992):

  • Sektor publik di tingkat lokal mencakup administrasi dan pemerintah lokal dengan birokrasi dan organisasi politik sebagai bentuk organisasi yang mutakhir.
  • Sektor partisipatori, sesuai dengan namanya, tumbuh dan dibangkitkan oleh masyarakat secara sukarela, misalnya organisasi non-pemerintah (Ornop atau NGO atau LSM).
  • Sektor swasta, yang berorientasi kepada upaya mencari keuntungan, yakni dalam bidang jasa, perdagangan, dan industri.

Fungsi kelembagaan social (Doorn dan Lammers, 1959):

  • Memberi pedoman berperilaku kepada individu / masyarakat;
  • Menjaga keutuhan;
  • Memberi pegangan kepada masyarakat untuk mengadakan kontrol sosial (social control);
  • Memenuhi kebutuhan pokok manusia  atau masyarakat
  • Manfaat Kelembagaan:

    1. Manfaat : mencapai keserasian antara stabilitas dengan perubahan-perubahan dalam masyarakat—pengendalian sosial ,
    • Berdasarkan sifatnya, pengendalian sosial dapat berupa preventif atau represif, atau keduanya
    • Suatu proses pengendalian sosial dapat dilaksanakan pelbagai cara: tanpa kekerasan (persuasive) ataupun dengan paksaan (coersive).
    1. Conformity berarti proses penyesuaian atau penyelarasan diri dengan masyarakat, dengan cara mengindahkan kaidah-kaidah dan nilai-nilai,
    1. Deviation adalah penyimpangan terhadap kaidah-kaidah dan nilai-nilai dalam masyarakat

    Kontrol social berdasarkan sifatnya:

    • Preventif: sosialisasi, pendidikan
    • Represif/Mengembalikan keserasian:   Menjatuhkan sanksi hukum, agar anggota masyarakat yang melanggar jera dan   yang tidak melanggar tidak ikut-ikutan melanggar

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s