Kelembagaan Masyarakat dan Birokrasi

Kondisi Dualistis Kelembagaan di Indonesia

Pembangunan yang dilakukan tetap memelihara perbedaan kontras antara cara—cara produksi yang modern dan tradisional,   sektor industri – kekotaan berbanding dengan agraris—pedesaan. Industrialisasi lamban mengubah sifat statis tatanan pedesaan, gagal menyerap angkatan kerja perkotaan merusak SDA, sehingga di kota pun terlihat dualisme antara kekumuhan dan kemewahan

Kecenderungan Perubahan Pengorganisasian Masyarakat (Himes, 1976 dan Giddens, 2000)
-Memudarnya Fungsi Kekerabatan
-Manusia semakin mengenal spesialisasi dalam memenuhi keperluan hidup
-Cenderung Sekuler dan mengunggulkan Rasionalitas
-Masyarakat Makin Bersandar pada media massa
-Hambatan melakukan lintas kawasan semakin kecil
-Mengunggulkan demokratisasi
-Arus Balik perubahan
hal-hal tersebut kemudian memunculkan organisasi yang kompleks.

Tantangan Global
Bung Hatta 1946

“….bagaimana mengatur perekonomian Indonesia supaya pembangunan itu sejalan dan bersambungan dengan seluruh dunia…”

  • Dinamika kelembagaan kemasyarakatan tidak lepas dari dinamika free market capitalism
  • Tranformasi Ekonomi bersamaan dengan transformasi sosial

masalah sosial di desa dan kota

 

  • Tingkah laku yang melanggar atau bertentangan dengan norma yang menjaga kelangsungan kesejahteraan bersama

  • Situasi Sosial yang tidak dikehendaki, berbahaya, merugikan orang banyak

  • Kriminalitas, Perjudian, Korupsi, Pelacuran, Kekalutan dan Kekacauan Mental

Oleh karena itu Perlu Merespon Globalisasi dengan mempertimbangkan kepentingan “rakyat”. Ada

Tiga Respon:

Mengagumi,

Berhati-hati dan

Menolak. selain itu

Perlu Pengembangan Modal Sosial.

Modal sosial dalam bangunan sosial

 

Modal sosial didefinisikan sebagai norma-norma dan hubungan sosial yang melekat dalam struktur sosial dari masyarakat yang menumbuhkan hubungan saling percaya sehingga anggota masyarakat mampu mengkoordinasikan aksi meraih tujuan-tujuan yang diinginkan. Modal sosial dikembangkan secara bertahap dan akumulatif, mulai dari tahap inisiasi, tahapan partisipatif, dan tahap emansipatif, serta pemeliharaan.
Kontinuum Kelembagaan Ke Organisasi
Lembaga ke Organisasi (Tjondronegoro, 1982)

Lembaga

Orientasi Pada Kebutuhan

Peranan Yang Dimainkan

Upacara

Pengakuan karena Membudaya

Pengawasan Sosial

Terlibatnya Pendukung

Empirik

Tradisi turun-temurun

Berpegang Pada Norma

Prioritas Usia dan Gengsi

 

Alat Memenuhi kebutuhan

Organisasi

Orientasi Pada Tujuan

Tugas Yang Dilaksanakan

Prosedur

Pengakuan karena didirikan resmi

Pengawasan Peraturan

Keanggotaan

Digagas dan Diwujudkan

Kebiasaab karena Rutin

Kesetiaan Pada Tujuan

Prioritas Keterampilan dan kemahiran

Alat Mencapai Tujuan


 


PPerkembangan Lembaga dan Organisasi Pada Globalisasi

Pengembangan Kelembagaan: Perubahan Berencana

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s