Belajar Menghargai Waktu

Seringkali kita dengar ungkapan ketika ada orang yang telat datang saat janjian: “maklumlah orang Indonesia”; “Jamnya jam karet sih…”; dan lain sebagainya.

Pertanyaannya adalah: kenapa sih analognya mesti “orang Indonesia”? Apa semua orang di Indonesia memang suka telat jadi sampai dibuat analoginya seperti itu?

Tapi saya orang Indonesia dan saya tidak suka telat. Dan saya orang yang menghargai waktu jadi ketika seseorang yang janjian dengan saya datang tidak tepat waktu, saya akan langsung gondok dan begitu dia datang saya caci-maki dengan ungkapan yang kurang lebih sama dengan yang di atas. Dan, balasannya pastinya: “emeng elu bukan orang Indonesia?”

Oke, pertama kita analisis dulu kenapa analoginya mesti orang Indonesia??? Kenapa bukan orang Jepang, Arab, Amerika atau lainnya???

Orang-orang Jepang sangat menghargai waktu—bahkan jadwal kedatangan kereta pun datangnya bakal pas banget sama jadwal yang sudah dibuat. Saking begitu tidak inginnya kehilangan waktu, orang Jepang jalannya pada ngebut-ngebut (biasanya kalau di film-film yang paling kelihatan jalanan di sekitar Tokyo Tower itu yang orangnya rame berjubel dengan tempo jalan yang cepat sampai-sampai kalau kita lelet jalannya bisa jatuh dan terinjak-injak). Bahkan naik kereta pun orang Jepang sampai rebutan dan sampai empet-empetan di dalamnya (walaupun ga ada yang sampai naik ke atas kereta kayak di Indonesia). Padahal kereta di Jepang datangnya 5-10 menit sekali, itu pun ON TIME!!!

Sekarang berlanjut ke permasalahan orang Indonesia yang suka telat. Berikut pengalaman-pengalaman mengesalkan yang pernah saya alami tentang kurangnya penghargaan orang Indonesia terhadap waktu:

1. Waktu itu saya mau pulang ke Jakarta dengan kereta Ekonomi AC, di Jadwal sih tertulis 09.30 waktu keberangkatan kereta itu. Saya sudah sabar dan lemah lembut menunggu, si kereta belum datang sampai jam 10.00!!!! WTF! Gondok banget… Semua rencana yang saya susun dengan matang dalam benak hancur—terlambatnya kereta berarti mundurnya waktu saya untuk sampai ke rumah. Akhirnya si kereta berangkat pukul 10.30!

2. Cerita lainnya—yang paling sering dialami adalah keleletan abang sopir angkot Bogor. Di Bogor, angkot bisa ngetem 5-30menitan (saya pernah duduk di angkot yang ngetemnya 30 menit). Kadangkala sih—kalo ga inget sopir angkot itu orang miskin yang sedang cari nafkah—saya kepengen banget menghina-hina tuh sopir. Oke, si sopir punya banyak waktu untuk stuck di jalanan di dalam angkotnya. Tapi kita penumpangnya??? Hello, kita punya kehidupan lain dan waktu lain yang akan jauh lebih berguna untuk digunakan dibandingkan dengan duduk cengo diangkot!!

Pernah suatu ketika angkot yang saya tumpangi ngetem sekitar 15 menitan dan dengan tidak tahu dirinya si sopir bilang, “pindah ke situ aja yah neng.” (sambil nunjuk angkot disebelah). Sumpah saat itu pengen langsung nyekek tuh sopir sambil dicaci-maki. Tapi karena menjaga sopan-santun dan kehormatan mahasiswi, saya pindah ke angkot sebelah seraya sedikit sinis ke si sopir, “Bilang kek dari tadi!!!”.

Well, saya memiliki stereotype khusus tentang sopir angkot di Bogor ini karena kebodohan, kesewenang-wenangan dan keleletan mereka yang ga nahan.

3. Anehnya mahasiswa dan mahasiswi yang “katanya” kaum intelektual itu adalah makhluk yang tidak menghargai waktu. Saya punya teman, sebut saja Bunga. Bunga sudah mengirimkan jarkom ke teman sekelompoknya di mata kuliah X untuk mengerjakan tugas pada jam 10.00 siang. Parahnya tidak ada satu pun yang membalas SMS si Bunga dan si Bunga menanti di tempat yang telah di janjikan sampai satu jam lebih!!!

Beda cerita, ada si Anggrek. Si Anggrek sudah membagi-bagi tugas ke teman-teman sekelompoknya dan meminta mereka mengerjakan tugas bagiannya masing-masing dan kirim ke Anggrek ketika liburan berakhir. Walhasil, tidak seorang pun mengirimkannya ke Anggrek dan mereka baru mengerjakan sehari sebelum tugas dikumpulkan. Oke alasan “memanfaatkan liburan” itu bisa diterima. Tapi apakah 24 jam kita digunakan hanya untuk bersenang-senang? Makan-tidur-nonton-makan-nonton-tidur-mandi-makan. Tidak bisa kah meluangkan 15 menit saja waktu untuk berpikir dan mengerjakan tugas? Saya pribadi sering merasa pusing kalau tidak menggunakan otak untuk berpikir dalam sehari saja. Walau tidak ada tugas sekalipun saya akan menggunakan otak saya untuk berpikir—dengan bermain Sudoku atu mengisi TTS, atau mengarang.

4. Yang agak konyol, banyak orang di jalan yang jalan dengan kecepatan luar biasa lelet. Saya adalah orang yang yang selalu ingin bergerak cepat terutama kalau sedang jalan sendirian. Oleh karena itu saya sangat terganggu dengan kelemotan orang lain. Ada orang yang jalan sambil bermain HP ria sehingga jalannya lamaaaa banget; ada yang memang, entah apa yang ada dipikirannya, melamun tak tentu arah sehingga gerakannya lemot. Ada juga yang ketawa-ketiwi cekikikan; belum lagi orang pacaran yang kalau lagi jalan bareng, entah kenapa harus bergandengan tangan (takut amet kepisah).

Selain pengalaman di atas, masih banyak pengalaman lainnya yang terlalu panjang diceriterakan di sini.

Bukannya mau menjelek-jelekan bangsa sendiri dan mengagung-agungkan bangsa lain. Tapi bukankah Tuhan pernah bilang bahwasanya Tuhan tidak akan berubah nasib suatu kaum kalau kaum tersebut tidak berusaha mengubah nasibnya sendiri? Buat berubah, seseorang mesti punya kesadaran akan pentingnya perubahan itu terhadap dirinya, orang lain dan lingkungannya. Dan waktu adalah salah satu elemen yang sangat penting dalam kehidupan karena waktu itu:

  1. Tidak bisa diputar balik! 5-10 menit anda membaca tulisan ini, anda tidak boleh menyesal karena anda tidak akan memperoleh lagi 5-10 menit yang kalian gunakan untuk membaca tulisan ini padahal anda bisa melakukan hal-hal lain yang lebih bermanfaat dengan 5-10 menit itu.
  2. Tidak bisa dihentikan dan di-restart! Hidup bukan game player yang bisa di pause, stop ataupun di restart sesuka hati kita. Sekali kita buat kesalahan dalam hidup kita tidak bisa me-restart hidup dengan meminta dilahirkan ulang oleh Tuhan. Masalah pun tidak akan selesai hanya dengan cara menghentikan waktu hidup kita—a.k.a mati bunuh diri—malah masalah tersebut terus berjalan sepeninggalan kita (menghantui orang-orang terdekat kita mungkin?) dan tentunya akan dipertanyakan saat di akhirat. Misalnya: Lusi terjebak hutang ke rentenir, karena ga punya duit untuk bayar hutang Lusi mati bunuh diri. Apakah tuntas masalahnya si Lusi??? Pastinya keluarganya si Lusi yang bakal dikejar-kejar rentenir atau temannya atau kerabatnya yang lain. Dan yang pasti Lusi bakal menghadapi masalaha yang jauuuuh lebih besar dari hutang-piutang tersebut: malaikat penjaga surga dan neraka ga mau menerima arwah Lusi.
  3. Kita tidak bisa menambah ataupun mengurangi waktu! Setiap manusia dianugerahi Tuhan jumlah waktu yang sama: 24 jam sehari, 365 hari dalam setahun (titik). Kita tidak bisa meminta, “ya Tuhan beri aku tambahan 1 menit saja” pas ajal sudah mendekati kita kan? Tuhan sudah adil memberikannya dalam jumlah yang sama untuk tiap orangnya. So, kenapa mesti minta tambah atau dikurangi??? Bukankah kita sendiri, manusia, yang sering menuntut keadilan?!

That’s all the point, jadi mulai dari sekarang hargai tiap jam, menit detik dalam hidup kita dengan baik. Banyak cara yang bisa dilakukan seperti datang tepat waktu bila berjanji, tidak membuang-buang waktu dengan hal-hal yang ga penting, memanage waktu dengan baik, dll……..

Semoga kita semua bisa menjadi individu yang lebih baik🙂

3 thoughts on “Belajar Menghargai Waktu

  1. Dear Mba Annis,

    Bener banget mbak, setuju sama artikel nya. Tp ada yg mau saya tanya, ada tips nya ngga utk menerima org yg di sekitar kita suka ngga menghargai waktu. Soalnya pribadi saya suka marah dan sakit hati kalo orang di sekitar kita ga menghargai waktu padahal kita sudah berusaha utk menepati waktu.

    Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s