Memudarnya Masyarakat Tradisional

“Memudarnya Masyarakat Tradisional” adalah judul buku yang ditulis oleh Daniel Lerner tahun 1980-an. Buku ini berisi penelitian Daniel Lerner terkait modernisasi yang terjadi di kawasan Timur Tengah pada Tahun 1950-an. Ada 6 negara yang diteliti, yaitu: Turki, Libanon, Siria, Iran, Yordania, dan Mesir. Buku ini sangat sangaaaattt menarik dan menyenangkan untuk dibaca karena membaca buku ini seperti membaca sebuah novel sejarah mengenai masyarakat tradisional. Dan hasil-hasil wawancara dengan penduduk setempat pun turut pula dicantumkan yang terkadang membuat saya ngakak sekaligus takjub membacanya. Bagi mereka yang ingin memperdalam ilmu Perubahan Sosial saya rasa buku ini wajib dibaca karena isinya memang kereeen ^^. Well, jadi ini resume bukunya……

BAB 1 PEDAGANG PANGAN DAN KEPALA DESA: SEBUAH KISAH

Bab ini lebih mengkisahkan tentang ketertarikan Daniel Lerner untuk melakukan penelitian di sebuah desa terpencil di Turki yang bernama Balgat. Lerner membaca hasil penelitian Tosun mengenai Balgat dan tanggapan Tosun bahwa desa itu tidak ada harapan untuk maju di hari ke depan. Desa itu berdasarkan penelitian Tosun sangat terkungkung dengan masyarakatnya yang pasif terhadap perubahan dan pembaharuan. Mereka yang memiliki opini berbeda dianggap kafir dan akan dijauhi masyarakat.  Namun ada 2 tokoh yang menarik perhatian Lerner dari apa yang dikisahkan oleh Tosun yaitu Kepala Desa dan pedagang pangan yang mana keduanya memiliki ciri unik yang tidak dimiliki oleh penduduk lain di desa tersebut.

Kepala desa sebagai pemimpin desa tersebut mampu membuat Tosun gugup ketika melakukan wawancara. Kepala desa juga adalah satu-satunya orang yang memiliki radio di desa tersebut. Setiap hari ia mengumpulkan penduduknya untuk mendengarkan radio di rumahnya dan kemudian sang kepala desa memberikan opini-opininya. *hanya opini kepala desa.

Sementara itu pedagang pangan menunjukkan sikap lebih terbuka dibandingkan penduduk desa lain yang cenderung tertutup dan pemalu dalam mengungkapkan perasaannya. Pedagang pangan ini menjelaskan bagaimana dirinya menginginkan adanya perubahan di desa tersebut. Berbeda dengan kepala desa yang mampu membuat gugup Tosun, pedagang pangan ini justru gugup dengan Tosun tapi dia juga berusaha mendekatkan diri dengan Tosun. Pedagang pangan ini agak dijauhi dan tidak disukai oleh para penduduk karena anggapan bahwa pedagang itu sudah terlalu musyrik (karena menginginkan perubahan) dan terlalu bernafsu dengan uang.

Berlandaskan dengan pemaparan Tosun tentang desa Balgat dan kedua tokoh desa itu yang membuat Lerner penasaran, maka 4 tahun kemudian pergilah Lerner ke Turki untuk meneliti kembali desa tersebut ditemani oleh Tahir yang waktu itu turut serta dalam penelitian Tosun.

Sesampainya di Balgat, Lerner dihadapkan pada kenyataan yang jauh berbeda dengan apa yang dibacanya dalam penelitian Tosun 4 tahun silam. Desa Balgat benar-benar telah berubah. Desa tersebut telah dialiri listrik, jumlah pemilik radio mencapai 100 lebih, sudah ada halte bus yang menghubungkan desa dengan pusat kota, serta semakin banyak pasar dan yang paling mencolok adalah makin berkurangnya jumlah petani di desa itu (hanya ada 4 orang). Ketika mengunjungi kepala desa dan menanyakan bagaimana perubahan itu bisa terjadi, kepala desa menjelaskan bahwa hal itu berawal dari pemilihan umum di mana pihak oposisi menanyakan kepada para penduduk Balgat tentang apa yang mereka butuhkan dan berjanji akan memenuhinya jika pihak oposisi memenangkan pemilu. Dan terang saja pihak oposisi yang tak lain adalah partai democrat membuat jalan raya, dan mengenyahkan gandarmarle (semacam tengkulak yang menyiksa kehidupan petani). Dan penduduk desa Balgat pun kini semuanya adalah orang partai Demokrat tersebut. Sayangnya ketika ingin mewawancarai pedagang pangan ternyata pedagang pangan itu sudah meninggal (sediiihh :”(. Maka Lerner menanyai para penduduk tentang pendapat mereka tentang pedagang tersebut yang ternyata penduduk mengakui bahwa pedagang pangan itu adalah yang terpandai di antara mereka walaupun mereka baru menyadarinya kini setelah perubahan itu terjadi.

BAB 2 MEMODERNKAN GAYA HIDUP: SEBUAH TEORI

Bab 2 lebih menjelaskan tentang pokok permasalahan penelitian si Daniel Lerner, hipotesis, definisi operasionalnya juga teori-teori tentang perubahan sosialnya. Dijelaskan bahwa Balgat itu hanya salah satu contoh kecil dari berlalunya masyarakat tradisionil di Timur Tengah.

Di masa itu, muslim di Timur Tengah beraneka ragam. Nah, modernisasi ini adalah prinsip pemersatu mengenai Timur Tengah yang aneka ragam itu. Awalnya dikenal istilah Eropanisasi karena kebanyakan negara Timur Tengah mendapat pengaruh dari Perancis dan Inggris. Lalu dikenal lagi istilah Amerikanisasi karena waktu itu Amerika gencar menyebarkan pengaruhnya melalui misionaris-misionaris yang dia kirim ke Timur Tengah. Lalu kedua istilah itu digabung dan menjadi westernisasi.

Hakekat dari perubahan yang terjadi adalah pergeseran dalam cara menyampaikan ide dan sikap—karena apa yang dilakukan modernisasi adalah menyebarkan gambaran yang jelas kepada masyarakat tentang cara hidup baru. Sarananya bukanlah media atau perjalanan ke luar negeri, tetapi media massa berupa Koran, radio, dan film. Peran pikiran-pikiran baru di masa transisi Timur Tengah melahirkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat empiris. Lerner memusatkan diri pada makna pribadi dari perubahan masyarakat—transformasi di dalam tatahidup individu sehari-hari.

Modernisasi model Barat menunjukkan beberapa komponen dan urutan yang mempunyai relevansi global. Di mana-mana, misalnya urbanisasi cenderung mengurangi buta huruf; berkurangnya buta huruf ini cenderung meningkatkan keterbukaan terhadap media; meningkatnya keterbukaan terhadap media massa bergandengan juga dengan partisipasi ekonomi yang lebih luas (pendapatan perorangan) dan partisipasi politik (pemilihan umum). Yang merumitkan modernisasi Timur Tengah adalah etnosentrisme mereka sendiri—yang secara politis diungkapkan dalam nasionalisme ekstrim, secara psikologis di dalam kebencian terhadap yang asing.

Pola perilaku yang dikembangkan oleh masyarakat modern ditandai oleh empati, kemampuan tinggi untuk menyusun kembali sistem diri pada waktu singkat. Modernisasi setiap masyarakat mencakup transformasi perwatakan yang dinamai mobilitas kejiwaan. Dalam masyarakat modern lebih banyak individu menunjukkan kemampuan berempati yang lebih tinggi dari masyarakat manapun sebelumnya. Di samping itu, mass media dengan menyederhanakan persepsi (apa yang kita “lihat”) sementara juga menyulitkan respons (apa yang kita “lakukan”) telah menjadi guru yang hebat di dalam manipulasi jiwa.

BAB 3 MEMUDARNYA MASYARAKAT TRADISIONAL: SEBUAH LAPORAN

Seperti layaknya buku-buku penelitian lainnya, kalo bab 1 tadi ngebahas latar belakang ketertarikan Lerner meneliti perubahan sosial terkait modernisasi di Timur Tengah dan bab 2 menjelaskan definisi operasional, hipotesis, etc etc. Bab 3 ini lebih ngejelasin apa sih yang dibahas dibuku ini? Penelitian dilakukan di mana aja dan apa isi pokoknya blablablah….

Pokoknya dari keenam negara yang diteliti itu: Turki, Libanon, Syiria, Iran, Mesir, dan Yordania, Libanon tercatat bergerak paling dulu dan telah mencapai tingkat kemajuan paling unggul pada tahun 1950. Tapi walaupun tertinggal, dengan derap modernisasi yang cepat Turki bisa mengungguli Libanon pada 1958.  Secara umum digambarkan dalam grafik berikut:

Orang Timur Tengah yang bermodernisasi pada 1950 adalah sebagian besar pemuda bujangan, kurang lebih makmur dan berasal dari kelompok minoritas (non-muslim seperti yahudi dan nasrani). Wanita lebih sering terlihat sebagai modern pada negara di mana kaum muslim sunni tidak berpengaruh atas susunan masyarakat dan di mana banyak Kristen modern. Untuk focus penelitian sendiri, di Turki dan Libanon berfokus pada sosiologi komunikasi, di Siria dan Mesir focus pada politik,.

BAB 4 : TURKI DARI MASA LALU

Bab ini menceritakan bagaimana pemerintah Turki mencoba membuat “manusia baru Turki” demi kemajuan negaranya. Di masa Ottoman, jumlah buta huruf di Turki sangat besar (mencapai 90%) dan komunikasi lisan adalah sebuah kebiasaan lumrah dalam penyampaian pesan informasi, biasanya ada pembawa berita umum yang berkeliling menyampaikan informasi. Namun struktur komunikasi ini hanya sebagai control sosial, bukan alat untuk membentuk pendapat umum. Ketika percetakan pertama Turki tahun 1728 terbentuk, banyak protes mengalir terutama dari kalangan muslim ortodoks yang menganggap bahwa proyek tersebut haram. Penghormatan agama terhadap kertas menahan kehendak mereka untuk mencetaknya. Hal ini mengakibatkan golongan non-muslim yang merupakan minoritas di Turki menjadi jauh lebih maju, mereka membawa mesin cetaknya sendiri ke Turki karena lebih dekatnya hubungan mereka ke Eropa dan kohesivitas kelompok minoritas yang tinggi. Dalam pendidikan pun golongan minoritas ini pada tahun 1520 telah memiliki sistem pendidikan yang lengkap dari SD hingga akademi. Sementara muslim Turki maju dengan lambat. Percetakan yang dibangun pada 1728 tak dimanfaatkan. Walaupun sekolah menengah sudah dibangun namun murid yang ada terutama  pergi ke madrasah untuk belajar agama.

Attarturk pemimpin Turki kemudian setelah Ottoman hancur menganggap bahwa untuk merubah cara pikir suatu masyarakat ia harus mengubah jaringan yang ada menjadi komunikasi massa. Maka dari itu lah Attarturk melakukan revolusi komunikasi. Yang paling awal dilakukannya adalah merubah dengan cara revolusioner aksara Arab ke aksara barat. Untuk itu hal yang terpenting adalah meluasnya kemampuan membaca. Titik berat diletakkan pada sistem Sekolah Desa atau Lembaga Desa dengan mana sumber kemampuan untuk membaca dan menulis yang terbatas di desa bisa dimanfaatkan untuk mempercepat pendidikan dasar yang praktis bagi warga desa. Namun hal tersebut tidak berjalan mulus karena manfaat dari pendidikan tidak dirasakan langsung oleh warga desa, selain itu keadaan guru kota di desa pada tahap permulaan sangat sulit di mana para guru sering dikucilkan dan malah dipukuli oleh warga desa. Kemajuan melalui Lembaga Desa sangat lambat. Pada 1946-1951 terdapat banyak penambahan sekolah baru. Dan pada tahun 1935-1945 tercatat kenaikan 10% orang yang mampu membaca dan menulis di dalam jumlah penduduk yang terus bertambah.

Karena laki-laki menghabiskan waktunya untuk bekerja, wanita dan anak-anak biasanya memiliki waktu luang yang lebih banyak. Hal ini dimanfaatkan dengan membuat jumlah majalah anak-anak yang lebih banyak serta memperpanjang jam penyiaran program anak-anak. Selain itu pembaca perpustakaan umum juga mengalami peningkatan. Pada 1954 tercatat pertambahan 50% jumlah kepemilikan pesawat radio. Hal ini meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemilihan umum. Mulai dibangun gedung-gedung bioskop serta mulai ada pengenalan tentang konsep uang.

Di akhir bab diceriterakan tentang kaum tradisionil Turki sebagai pribadi yang terbatas. Mereka tidak merasa ingin tahu tentang segala sesuatu yang tidak ada sangkut pautnya dengan diri mereka. Mereka tidak memiliki konsep yang jelas tentang luas, jarak dan waktu.

BAB 5: TURKI KE ARAH MASA DEPAN

Bab ini membandingkan 3 tipe masyarakat Turki, yaitu masyarakat tradisionil yang masih primitive, masyarakat transisionil yang sedang masa peralihan, serta masyarakat modern.

1.      Masyarakat tradisionil

Kepribadian kaum tradisionil telah dilatih sedemikian rupa oleh keadaan masyarakatnya untuk membatasi imajinasi pada ukuran waktu dan tempat dari kehidupan sehari-hari yang dikenalnya. Sumber lisan masih menjadi sumber berita mayoritas. Mereka belum berani membuat opini/pendapat tentang sesuatu hal, hal tersebut tentunya menyebabkan rendahnya partisipasi politik mereka. Masyarakat tradisionil adalah bagian pasif dari masyarakat dan tidak berpartisipasi secara berarti dalam komunikasi bentuk baru atau lembaga lainnya yang mendorong modernisasi masyarakat.

2.      Masyarakat modern

Sumber berita masyarakat modern tidak terbatas pada komunikasi lisan, namun mayoritas adalah surat kabar. Mereka sudah mampu membuat opini ataupun berpikir kritis mengenai suatu hal bahkan yang dianggap bertentangan dengan tradisi yang ada. Dapat dikatakan bahwa masyarakat modern ini telah mencapai taraf partisipasi media yang dalam sehingga menyebabkan tingginya partisipasi politik mereka. Kaum modern yang telah menjadi pengikut dari komunikasi media, sekarang adalah unsure aktif di dalam masyarakat Turki.

3.      Masyarakat transisionil

Walaupun mereka cukup modern untuk mempunyai perhatian dapat membedakan dan kritis, akan tetapi mereka belum memperoleh rasa mobilitas yang mendasari pandangan eksperimentil dari kaum modern yang asli. Akar kesulitan dari masyarakat tradisionil adalah konflik antara harapan baru dan tradisi lama. Namun masyarakat transisionil ini adalah sumber kekuatan baru dari masyarakat masa depan dan sangat berarti untuk perubahan komunikasi sosial.

Bab 5: Libanon: Dua Dunia Di Dalam Kompas Kecil

Libanon adalah negara Arab yang paling modern.  Libanon memiliki proporsi tertinggi di dalam hal penduduk yang tinggal di kota; berpenghasilan dan membelanjakan lebih banyak uanng, bersekolah dan mampu membaca dan menulis. Orang Libaon sejak dahulu telah mengenal berbagai pengaruh modernisasi dari luar negeri. hal ini terutama disebabkan karena Libanon merupakan pusat perdagangan sejak dahulu, semacam jalan strategis untuk barang eksotik dan ide dari orang asing. Kekristenan dan pengaruh barat tumbuh bersama. saluran komunikasi dengan barat tersedia untuk beberapa sekte nasrani yang pada gilirannya meneruskan pengaruh barat ke dalam. Karena sistem millet Ottoman yang sedemikian ketatnya sehingga saluran Kristen ke barat ini bekerja terutama sebagai lingkaran tertutup. Hasilnya adalah perubahan sosial yang tidak merata terjadi di mana orang Kristen bermodernisasi lebih cepat. Tapi pada akhirnya perpaduan terjadi. Sekolah dan percetakan kaum misionaris diciptakan untuk melaksanakan fungsi modernisasi.

Bila agama Kristen membawa pengaruh barat masuk, modernisasi politik di Libanon lebih karena warisan Perancis. Perancis menciptakan negara terpisah dari Libanon Raya, menggabungkan wilayah muslimin di bawah pengaruh unsure Kristen, membuat tata tertib umum, serta membangun fasilitas seperti pelabuhan, jalan, kereta api, dll.

Modernisasi tersebut dipercepat dengan ciri khusus dari sejarah Libanon yaitu proporsi tinggi dari mereka yang pergi untuk merantau. Terjadi perpindahan besar-besaran masyarakat Libanon—baik itu emigrasi maupun urbanisasi—ketika pertambahan penduduk mengakibatkan pemecahan tanah milik menjadi semakin kecil. Penduduk Libannon adalah orang-orang yang berempati dengan lebih lancer dibandingkan penduduk di kawasan lain di Timur Tengah. Mobilitas tinggi ini mempunyai pengaruh yang besar untuk warga desa yang pindah dan bagi mereka yang masih tinggal. Warga desa mendapatkan pandangan baru dan menarik perihal nilai uang. Mobilitas adalah inti dari perubahan sosial yang  mengangkat mereka. Melalui mobilitas, kemampuan membaca dan menulis serta keterbukaan terhadap media, para pemuda mengambil alih pimpinan pendapat umum di pedesaan Libanon tentang persoalan umum yang penting.

Peran media menekankan perasaan emansipasi pada diri wanita modern Libanon. Pemisahan wanita dengan pakaian yang dianggap sebagai unsure nyata antar kelas menggugah semangat emansipasi wanita modern untuk membebaskan diri dari status tradisionil sebagai budak modern.

Beberapa perubahan yang besar dalam gaya politik yang lazim terjadi adalah pemberian suara menjadi suatu keharusan bagi semua lelaki dan bagi kaum wania terpelajar. Tetapi perubahan dalam gaya politik ini tidak merubah dasar pembagian kekuasaaan. Tidak ada organisasi permanen yang menampung tenaga kaum oposisi.

Bab VII

Mesir: Lingkaran Setan

Perkembangan modernisasi diawali dengan kaum elit Mesir yang berhubungan dengan Inggris selama setengah abad, mengakibatkan mereka terbiasa dengan dunia modern. Pertambahan penduduk di Mesir mengakibatkan kebutuhan yang meningkat, sehingga membentuk lingkaran setan kemiskinan yang menyebabkan Mesir membutuhkan usaha raksasa dalam waktu yang lama. Para kaum elit di Mesir berlomba-lomba menjadi penyelamat kesejahteraan dengan membangun impian-impian mereka. Salah satunya dengan cara mengarahkan arus komunikasi, membentuk produk mereka yang menyampaikan gambaran mereka tentang masa datang negeri itu. Namun, menghubungkan tujuan untuk kesejahteraan umum dan kemegahan nasional dengan cara ini, membutuhkan arah pencarian dan usaha besar. Akhirnya dibentuklah sebuah revolusi komunikasi Mesir yang digunakan untuk menyebarkan identitas nasional yang diharapkan dapat membangkitkan harapan orang mesir. Hal ini dimanfaatkan oleh Nasser Perdana Menteri Mesir untuk menaikkan standar penilaian prestasi dengan mana pemerintahnnya akan dinilai. Pengaharapan yang tinggi tentunya membutuhkan imbalan yang tinggi. Namun, gambaran mendapat imbalan yang tinggi bagi penduduk mesir tidak begitu cerah. Semakin tingginya harapan maka inilah resikonya, karena melihat impian Nasser mengenai masa depan mesir dihadapkan pada hambatan yang besar.

Bab VIII

Siria : Bujukan Esktrimisme

Awal dari modernisasi di Siria yaitu karena ketidakstabilan politik yang  digoncangkan oleh ledakan politik. Kekuasaan dan kekayaan dikuasai oleh oligarki tuan tanah dan pedagang yang ditentang oleh segolongan perwira Angkatan Darat. Hal ini menyebabkan terbentuknya golongan-golongan bentuk pencampuran dari Ideologi Nasionalisme, Arabisme dan Islam. Sikap ketidakacuhan massa terhadap oligarki tuan tanah maupun terhadap golongan kontra elit telah diperkuat oleh sistem tradisional, dalam hal ini adalah para petani dan pekerja. Para elit menambah ketegangan dengan membuat strategi komunikasi tanpa rencana yang memegang kekuasaan, pernyataan-pernyataan yang  menimbulkan harapan-harapan yang tidak akan terpenuhi. Ketidakmampuan dari pemerintahan Siria untuk mempertahankan kekuasaan mereka menunjukkan perpecahan sosial. Dengan tidak adanya ketidakstabilan sosial yang minimal, maka kesempatan untuk pemerintahan yang effisienpun akan berkurang. Hal ini dikarenakan oleh gabungan dari ekonomi yang kurang berkembang dan penduduk yang kurang berpartisipasi. Pandangan sejenak pada ekonomi Siria memperlihatkan hambatan berat yang diakibatkan oleh lingkungan sosial seperti itu terhadap ruang lingkup kebijaksanaan pusat nasional.

Bab IX

Yordania Satu Negara Dengan Dua Bangsa

Awal dari modernisasi ini karena masukya orang-orang Palestina ke Yordania setelah kalah perang dengan Israel. Kurang lebih setengah dari penduduk baru ini tinggal di daerah pinggiran barat. Sedangkan pengungsi dari Israel terpencar di daerah pinggiran timur. Dengan masuknya pengungsi tersebut, Trans Yordania yang kuno tiba-tiba memasuki dunia modern sebagai kerajaan Hashemite dari Yordania yang bergolak. Penduduk Palestina yang lebih banyak dan lebih maju dipaksakan di atas rakyat yang terbelakang dalam daerah yang sumber-sumbernya terbatas belum terpetakan menimbulkan masalah. Sementara itu jalan permulaan telah dihambat oleh persoalan tentang “kontak kebudayaan” antara dua bangsa. Orang-orang Palestina dari kota menganggap orang Trans Yordania yang hidup di gurun sebagai orang yang terbelakang.

Bab X

Iran : Dalam Dunia Dengan Dua Kutub Kekuatan

Awal dari modernisasi dari Negara ini adalah karena letak geografisnya diantara dua kekuatan besar yaitu Rusia dan Inggris. Iran sebagai penghasil minyak mentah menjadi perebutan dua kekuatan. Masa depan Iran memang dapat dikatakan terbentuk oleh selang-seling ambisi Rusia dan Barat. Perkembangan dalam negeri Iran telah dipotong menurut pola luar negeri,mengikuti deret maju mundurnya permainan Negara besar di atas daratan Iran. Modernisasi iran dewasa masih mengikuti bimbingan kekuatan dari luar.

Bab XI

Tinjauan Masa Depan Dan Masa Yang Akan Datang

Setelah kekuasaan tradisional runtuh, beberapa hubungan dasar di antara manusia mengalami perubahan. Kekuasaan lama dari sesepuh desa menurun menjadi perasaan hormat sedang pengaruh yang sebenarnya pindah kepada yang lain. Keluarga patriarkhi kehilangan kekuasaan memerintah, tata cara hidup lama lainnya mulai dipersoalkan. Hal ini menyebabkan mobilitas memberikan kemerdekaan pada generasi pria dan wanita dan dasar-dasar masyarakat tradisional telah digerogoti.

Analisa dari 73 negara di seluruh dunia menguatkan pandangan bahwa modenisasi adalah proses yang “sistematis”. Sektor demografi, ekonomi, politik, komunikasi dan kebudayaan dari masyarakat yang bermodernisasi tumbuh bersama dan pertumbuhan bersama ini terjadi dalam tahap-tahap yang teratur. Dalam bacaan dibedakan atas Negara dimana proses modernisasi yang berimbang sedang berjalan (Turki dan Libanon), Negara yang perubahan sosialnya tidak melalui tahap demi tahap (Mesir dan Siria), Negara dimana karena sesuaru hal, proses modernisasinya hamper tak terlihat pada survei (Yordania dan Iran). Timur Tengah menurut Max Weber berada pada persimpangan krisis kebutuhan.

Kebanyakan para ahli sependapat tentang pentingnya tokoh pembaharu tetapi peran khususnya tergantung pada minat pengamat. Orang barat yang berminat pada perkembangan ekonomi menunjuk pada entrepreneur. Para ahli ekonomi dan pengamat professional sependapat bahwa masalah menggairahkan produktivitas, pada dasarnya adalah masalah psikologis. Persoalan psikologis di timur tengah lebih fundamentil, yang diperlukan adalah mendorong petani dan suku-suku terasing yang buta huruf yang merupakan bagian terbesar dari penduduk kawasan ini adalah memberikan gambaran dan petunjuk tentang apa yang merupakan kehidupan lebih baik.

p.s: saya membaca buku ini dibantu teman dan saya baru baca sampai bab 6😛. kalo sudah selesai dibaca insyaallah di-update lagi🙂

2 thoughts on “Memudarnya Masyarakat Tradisional

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s