Kelompok dan Individu: Konsekuensi dari Rasa Kepemilikan

Kelompok adalah gabungan orang-orang yang dipersepsikan membentuk suatu unit dengan derajat koherensi tertentu (Lickel dll., 2000). Dalam sebuah kelompok, perasaan adil dalam kelompok adalah suatu hal yang penting. Bila salah satu anggota dalam kelompok mempersepsikan bahwa dirinya diperlakukan tidak adil, maka kesediaan mereka untuk bekerja sama dengan orang lain dapat berkurang secara drastic lalu dapat memicu konflik sehingga dapat mengurangi kinerja kelompok serata pengambilan keputusan juga menjadi lebih sulit.

Kelompok (group) adalah sekelompok orang yang dipersepsikan terikat satu sama lain dalam sebuah unit yang koheren pada derajat tertentu (Dasgupta dkk., 1999). Karakteristik kelompok adalah entiativity—derajat di mana suatu kelompok dipersepsikan sebagai suatu kesatuan yang koheren (Campbell, 1958). Entiativity sangat bervariasi, berkisar dari hanya sekumpulan orang yang kebetulan berada pada tempat yang sama dalam waktu yang sama tetapi memiliki sedikit atau tidak ada hubungan satu sama lain, hingga kelompok yang sangat intin seperti keluarga atau kekasih kita. Factor-faktor yang mempengaruhi derajat entiativity: derajat sejauh mana anggota kelompok berinteraksi satu sama lain; arti penting kelompok bagi anggotanya; sejauh mana anggota kelompok berbagi tujuan dan hasil akhhir yang sama; kesamaan mereka satu sama lain. Semakin tinggi tinggi derajat kelompok dalam dimensi ini, semakin mereka dilihat sebagai kelompok yang koheren.

Ada empat tipe kelompok yang berbeda:

  1. Kelompok intim (keluarga, sepasang kekasih)
  2. Kelompok berorientasi tugas (komite, kelompok kerja)
  3. Kategori social (wanita, orang-orang Amerika)
  4. Hubungan atau asosiasi social yang lemah (orang yang menikmati music klasik, orang yang hidup dalam lingkungan yang sama)

Fungsi kelompok mencakup empat hal sebagai berikut:

  1. Peran (roles): suatu set perilaku yang diharapkan dilakukan oleh individu yang memiliki posisi spesifik dalam suatu kelompok. Kadang-kadang peran didapat melalui pemberian; dalam kasus lain, individu perlahan-lahan menerima peran tertentu tanpa secara formal diberikan kepadanya. Peran dapat membantu memperjelas tanggung jawab dan kewajiban anggota-anggotanya. Peran juga mempunyai sisi buruk yakni anggota kelompok kadang-kadang mengalami konflik peran—stres yang berasal dari fakta bahwa dua peran yang dimainkan bertentangan satu sama lain.
  2. Status (status)—posisi atau tingkatan di dalam suatu kelompok. Peran dan posisi yang berbeda dalam kelompok sering dihubungkan dengan tingkat status yang berbeda. Orang dengan status tinggi memiliki lebih banyak akses dibandingkan orang dengan status rendah ke sumber-sumber daya kunci yang terkait dengan pertahanan hidup dan reproduksi, seperti makanan serta akses ke makanan. Evolusi menunjukkan adanya motivasi yang lebih kuat untuk mendapatkan status di kalangan pria daripada di kalangan wanita. Ukuran tubuh bisa memainkan peran dalam mendapatkan status yang tinggi (Buss, 1998). Orang kadang-kadang dapat meningkatkan statusnya melalui intimidasi—dengan amarah dan ancaman. Tapi terlalu banyak marah dapat mengurangi alih-alih meningkatkan status, dan amarah yang tenang dapat lebih efektif daripada amarah yang kasar. Contoh: saat terjadi skandal perselingkuhan antara Presiden Clinton dengan Ms. Lewinsky, ketika Clinton menampiknya dengan marah-marah justru mengurangi dukungan atas dirinya. Sementara di lain waktu Clinton mengekspresikan berita tentang dirinya dengan kesedihan, justru menarik lebih banyak dukungan.
  3. Norma (norms)—peraturan yang diciptakan oleh kelompok untuk member tahu anggotanya bagaimana mereka seharusnya bertingkah laku. Norma seringkali memiliki dampak yang kuat terhadap perilaku.
  4. Kohesivitas (cohesiveness)—semua kekuatan (factor-faktor) yang menyebabkan anggota bertahan dalam kelompok, seperti kesukaan pada anggota kelompok lain dalam kelompok dan keinginan untuk menjaga atau meningkatkan status dengan menjadi anggota dari kelompok yang “tepat” (Festinger dkk., 1950). Kohesivitas meliputi depersonalized attraction—kesukaan pada anggota lain dalam kelompok yang muncul dari fakta bahwa mereka adalah anggota dari kelompok tersebut dan mereka menunjukkan karakterristik-karakteristik kunci kelompok yang cukup berbeda dari trait mereka sebagai individu (Hogg & Haines, 1996). Factor yang mempengaruhi kohesivitas: i) status di dalam kelompok (makin tinggi status seseorang, makin tinggi kohesivitasnya pada kelompok); ii) usaha yang dibutuhkan untuk masuk ke dalam kelompok (makin susah usaha untuk masuk dalam kelompok itu, makin tinggi kohesivitasnya); iii) keberadaan ancaman eksternal atau kompetisi yang kuat; iv) ukuran kelompok (kelompok kecil lebih kohesif).

Fasilitasi social (social facilitation) adalah dampak terhadap kinerja yang berasal dari kehadiran orang lain. Dampak yang dihasilkan bisa positif (meningkatkan kinerja) maupun negatif (menghambat kinerja). Zajonc menyatakan teori dorongan atas fasilitasi social (drive theory of social facilitation)—suatu teori yang menyatakan bahwa dengan kehadiran orang lain saja dapat menimbulkan keterangsangan dan meningkatkan kecenderungan untuk menunjukkan respons dominan. Kehadiran orang lain sebagai penonton yang tertarik (ketika kita sedang melakukan kerja) dapat meningkatkan aktivasi atau keterangsangan kita. Ketika keterangsangan meningkat, kecenderungan kita untuk menunjukkan respons dominan—respons yang paling mungkin muncul dalam situasi tersebut—juga meningkat. Respons dominan ini bisa saja tepat atau tidak tepat. Jadi, bilamana kehadiran orang lain meningkatkan keterangsangan, factor ini akan memperbaiki kinerja ketika respons dominan yang muncul adalah respons yang tepat, tetapi dapat memburuk kinerja ketika respons dominan yang tidak tepat. Kehadiran orang lain akan memperbaiki kinerja seseorang bila ia memiliki keterampilan tinggi dalam tugas yang sedang dilakukan (respons dominan yang tepat), tetapi akan mengganggu kinerja bila ia tidak memiliki keterampilan yang tinggi tersebut.

Additive tasks—tugas di mana kontribusi dari setiap anggota digabungkan menjadi satu hasil akhir kelompok. Dalam tugas seperti ini, beberapa orang bekerja dengan keras sementara yang lainnya mas a bodoh, melakukan lebih sedikit dari bagian mereka dan lebih sedikit dari yang mungkin akan mereka kerjakan apabila bekerja sendiri. Social loafing—pengurangan motivasi dan usaha yang terjadi ketika individu bekerja secara kolektif dalam kelompok dibandingkan ketika mereka bekerja secara individual sebagai rekan yang independen (Karau & Williams, 1993). Satu-satunya factor pengecualian pada generalitas dampak ini adalah budaya: social loafing tidak tampak terjadi dalam budaya kolektvis, seperti yang ada di banyak Negara Asia—budaya di mana kebaikan-kebaikan kolektif lebih dihargai daripada prestasi atau keberhasilan individual (Earley, 1993). Dalam budaya semacam ini, orang-orang terlihat bekerja lebih keras ketika berada dalam kelompok daripada ketika mereka bekerja sendiri.

Model usaha kolektif (collective effort model/CEM)—penjelasan mengenai social loafing yang mengungkapkan bahwa hubungan yang dipersepsikan antara usaha individu dan hasil lebih lemah ketika mereka bekerja bersama orang lain dalam sebuah kelompok. Hal ini kemudian, menghasilkan kecenderungan munculnya social loafing. Social loafing dapat dipahami dengan cara memperluas teoi dasar atas motivasi individual—expectance-valance theory—pada situasi yang melibatkan kinerja kelompok. Expectance-valance theory menyebutkan bahwa individu akan bekerja keras pada tugas yang diberikan hanya jika kondisi-kondisi berikut terpenuhi: i)mereka percaya bahwa bekerja keras akan menghasilkan kinerja yang lebih baik (pengharapan/expectancy); ii) mereka percaya bahwa kinerja yang lebih baik akan diakui dan dihargai (instrumentalitas/instrumentality); iii) penghargaan yang diperoleh adalah sesuatu yang mereka anggap berharga dan diinginkan (valensi/valance).

CEM memperkirakan bahwa social loafing akan paling lemah ketika:

  • Individu bekerja dalam kelompok kecil daripada dalam kelompok besar
  • Ketika mereka bekerja pada tugas yang secara intrinsic menarik atau penting bagi mereka
  • Ketika mereka bekerja dengan orang-orang yang dihargai (teman. Rekan, tim, dll)
  • Ketika mereka mempersepsikan bahwa kontribusi mereka pada hasil kelompok adalah unik atau penting
  • Ketika mereka memperkirakan teman sekerja mereka bekerja secara buruk
  • Ketika mereka datang dari budaya yang menekankan pada usaha dan hasil individual daripada kelompok (kecuali di budaya kolektivis)

Social loafing paling mungkin terjadi dalam kondisi di mana kontribusi individual tidak dapat dievaluasi, ketika orang-orang mengerjakan tugas yang mereka anggap membosankan, dan ketika mereka bekerja sama dengan orang lain yang tidak terlalu mereka hargai atau kenal. Berikut beberapa cara untuk mengurang social loafing:

  1. Membuat hasil akhir atau usaha dari masing-masing anggota dapat diidentifikasi
  2. Meningkatkan komitmen anggota kelompok pada kinerja tugas yang sukses
  3. Meningkatkan kejelasan akan arti penting atau nilai dari suatu tugas
  4. Social loafing menurun ketika individu memandang bahwa kontribusi mereka pada tugas tersebut unik dan bukan sekedar meramaikan kontribusi orang lain (Weldon & Mustari, 1988)

Kerjasama (cooperation) adalah perilaku di mana kelompok bekerja secara bersama-sama untuk mendapatkan tujuan yang sama. Sementara itu, konflik (conflict) adalah suatu proses di man individu atau kelompok mempersepsikan bahwa orang lain telah atau akan segera mengambil tindakan yang tidak sejalan dengan kepentingan pribadi mereka.

Ketika hasil yang diraih dari tujuan-tujuan kelompok hanya diperuntukkan bagi satu orang, kerja sama tidak memungkinkan, dan konflik dapat berkembang cepat selagi setiap orang (atau kelompok) berusaha untuk memaksimalkan hasil mereka masing-masing (Tjosvold, 1993). Ada beberapa factor yang menjadi penentu baik untuk menuju atau menjauh dari kerja sama, yaitu:

  1. Dilemma social (social dilemma)—situasi di mana setiap orang dapat meningkatkan perolehan individual mereka dengan bertindak menang sendiri/egois, tetapi tidak semua (atau sebagian besar) orang melakukan hal yang sama, hasil akhir yang diterima oleh semua orang akan berkurang. orang-orang dalam situasi seperti ini harus berurusan dengan motif campuran (mixed motive): terdapat alasan untuk bekerja sama (menghindari hasil negatif untuk semua orang), tetapi juga alasan untuk berkompetisi—untuk melakukan hal yang terbaik bagi diri sendiri. Contoh: dalam sebuah peternakan di mana masing-masing peternak diberlakukan peraturan untuk menernak sapi masing-masing 8. Lalu ada 1 orang anggota peternak itu berpikir: “ah, lahannya masih luas. Kalau saya nambah 1 sapi pasti tidak masalah”. Lalu peternak itu pun menambahkan 1 sapi lagi dan diketahui oleh anggota yang lain, dan mereka berpikir “dia aja nernakin 9 sapi, rugi dong kalau saya Cuma 8 ekor”. Akhirnya yang lain ikut menambahkan sapinya. Sampai ternyata lahan yang tersedia tidak mencukupi untuk jumlah sapi yang ada.
  2. Factor-faktor yang mempengaruhi kerja sama:
  • Timbale balik (reciprocity)—aturan mendassar dari kehidupan social bahwa individu cenderung memperlakukan orang lain sebagaimana orang-orang tersebut telah memperlakukan mereka. Jika orang lain bekerja sama dengan kita dan mengesampingkan kepentingan pribadinya, biasanya kita akan melakukan hal yang sama sebagai balasannya. Teori altruism timbale balik menyatakan bahwa dengan berbagi sumber daya seperti makanan, organism meningkatkan kemungkinan mereka untuk bertahan, dan kemungkinan bahwa mereka akan mewariskan gen pada generasi berikutnya.
  • Orientasi pribadi. Individu dapat memiliki satu dari tiga orientasi yang beerbeda terhadap situasi yang meliputi dilemma social: i) orientasi kooperatif, memilih untuk memaksimalkan hasil akhir bersama yang diterima oleh semua orang yang terlibat; ii) orientasi individualistic, focus utamanya adalah untuk memaksimalkan hasil mereka sendiri; iii) orientasi kompetitif, focus utamanya adalah untuk mengalahkan orang lain.
  • Komunikasi. Jika individu dapat mendiskusikan situasi dengan orang lain, mereka mungkin akan segera menyimpulkan bahwa pilihan yang terbaik untuk setiap orang adalah bekerja sama.
  1. 3. Efek diskontinuitas—kecenderungan yang lebih besar bagi kelompok daripada individu untuk berkompetisi dalam situasi yang mengandung motif campuran. Ada 3 faktor yang memainkan orang: orang lebih cenderung untuk lebih tidak mempercayai kelompok lain daripada orang-orang lain, tetapi mereka kurang optimis akan mendapatkan perlakuan untuk bekerja sama deari kelompok; ketika kelompok bertindak dalam perilaku egois dan kompetitif, anggotanya dapat meyakinkan satu sama lain bahwa hal ini perlu dilakukan; individu mengetahui bahwa mereka dapat diidentifikasi dengan segera oleh lawannya.

Kelompok menunjukkan kecenderungan yang jauh lebih rendah untuk membuat pilihankompetitif ketika mereka mengantisipasi adanya hubungan terus-menerus dengan lawannya, sedangkan individu menunjukkan pengurangan yang jauh lebih sedikit.

Sementara itu, penyebab konflik dalam kelompok adalah sebagai berikut:

  1. Konflik terjadi ketika kedua belah pihak memiliki kepentingan yang bertentangan.
  2. Atribusi yang salah—kesalahan yang berhubungan dengan latar belakang perilaku orang lain. Ketika individu menemukan bahwa kepentingan mereka gagal terpenuhi, mereka biasanya mencoba mencari jawaban mengapa hal tersebut terjadi. Jika mereka menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah karena adanya intervensi yang disengaja oleh orang lain atau kelompok lain, maka benih konflik telah tertanam—bahkan jika orang lain tersebut sebenarnya tidak ada kaitannya dengan situasi itu.
  3. Komunikasi yang salah. Terkadang, umpan balik dalam bentuk kritik yang disebut kritik destruktif ini dapat menjadikan penerimanya berkeinginan untuk balas dendam—dan kemudian menanamkan benih konflik, yang sekali lagi, tidak muncul dari kepentingan yang bertentangan.
  4. Kecenderungan untuk mempersepsikan pandangan diri sendiri sebagai objektif dan merefleksikan realitas, tetapi pandangan orang lain dipengaruhi oleh ideology mereka. Hasilnya, kita cenderung untuk memperbesar perbedaan antara pandangan kita dengan pandangan orang lain, dan juga melebih-lebihkan konflik kepentingan di antara kita sehingga sering menyebabkan timbulnya bias status quo.
  5. Trait-trait atau karakteristik pribadi: individu tipe A dan individu tipe B.

4 thoughts on “Kelompok dan Individu: Konsekuensi dari Rasa Kepemilikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s