Banjir Pakistan Lebih Buruk dari Tsunami

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan korban banjir bandang di Pakistan lebih dari 13 juta orang. Dan kerusakan yang ditimbulkannya lebih berat ketimbang tsunami 2004. Banjir telah meresap ke setiap sudut negeri itu dan menghancurkan infrastruktur dasar termasuk jembatan, jalan, sekolah, klinik kesehatan, fasilitas listrik dan sistem pembuangan. Provinsi dengan kerusakan paling parah adalah Khyber Pukhtunkhwa.

Seperti yang telah banyak diberitakan oleh media massa, banjir di Pakistan memakan banyak jiwa manusia. Sekitar lebih dari 1500 orang meninggal dan jutaan penduduk harus mengungsi karena rumah mereka terbawa air dan mereka kehilangan tempat tinggal.
Banjir dahsyat yang diakibatkan oleh hujan monsoon ini menderita kelaparan dan banyak yang jatuh sakit terutama anak-anak di tempat pengungsian nya. Bantuan internasional sangat dibutuhkan guna mengatasi masalah yang diakibatkan banjir ini.


Diperkirakan setengah juta warga sudah dievakuasi dari dataran rendah di wilayah selatan dan tenggara Pakistan. Sementara ratusan desa berikutnya terancam banjir, demikian dinyatakan pemerintah provinsi Sindh. Lahan luas pertanian saat ini sudah terendam air. Militer sudah mengerahkan bala bantuan dengan 450 perahu karet dan 40 helikopter. Jalanan yang hancur dan jembatan yang putus mengakibatkan terputusnya akses menuju berbagai wilayah.

Sebuah desa  terendam banjir di Kot Addu, Pakistan, Rabu (04/08).Bildunterschrift: Großansicht des Bildes mit der Bildunterschrift:  Sebuah desa terendam banjir di Kot Addu, Pakistan, Rabu (04/08).Dalam sebuah konferensi lewat telepon dengan Jenewa, kepala satuan bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa Manuel Bessler melaporkan bahwa banyak wilayah yang hanya bisa dicapai dengan transportasi udara. Barang bantuan dari luar negeri tidak jarang memerlukan waktu lebih lama untuk bisa mencapai wilayah bencana. Program Pangan Dunia PBB, WFP, memulai jembatan udara berikutnya dengan helikopter di wilayah lembah Swat yang mengalami kerusakan hebat.

Kepada Deutsche Welle, juru bicara Komisi Palang Merah Internasional Michael O’Brien mengatakan, “Dalam situasi saat ini, saya pikir sangat sulit untuk mengetahui daerah mana yang memerlukan bantuan. Banjir minggu lalu telah merusakkan semua infrastruktur dan sangat tidak mungkin untuk mencapai lokasi bencana.”

Selain itu, Serangan misil AS ke Pakistan beberapa hari yang lalu yang menewaskan setidaknya 12 warga Pakistan menambah duka dan derita jutaan rakyat Pakistan yang kini sedang tertimpa bencana banjir. Di tengah ancaman kelaparan dan penyakit akibat banjir, mereka masih menghadapi ancaman serangan misil dari militer AS.

Massive floods in Pakistan_2

Pakistan battles the country’s worst flood in history
An aerial view from a Pakistan army rescue helicopter shows the flooded area of Sukkur in the Sindh province of Pakistan on August 7, 2010. Torrential rains frustrated aid efforts in Pakistan, with some helicopters grounded as authorities battled to help 15 million people affected by the country’s worst floods ever. UPI/Sajjad Ali Qureshi | UPI.com |

Massive floods in Pakistan_4

Worst floods in Pakistan’s history continue to affect millions
A home is surround by flood waters near the Muzaffargarh district in Punjab, Pakistan on August 10, 2010. An estimated 13 million Pakistanis have been affected by the worst floods in the country’s history. UPI/Sajjad Ali Qureshi | UPI.com |

Di bulan ramadhan ini, korban banjir bandang Pakistan sudah lebih dulu menahan lapar karena sedikitnya bahan makanan dan air yang mereka miliki jauh sebelum bulan puasa dimulai Kamis kemarin. Mereka harus memikirkan apa yang akan terjadi besok dengan keadaan yang serba tak menentu.

Ambruknya jalan, jembatan, dan hujan yang belum mau berhenti menyiram negeri mereka, membuat semua harga bahan makanan melonjak tiga kali lipat di seluruh negeri ini, yang tentu saja menambah penderitaan 14 juta warga miskin yang semakin menderita karena bencana alam ini.

“Ramadhan atau bukan, kami sudah sekarat menahan lapar. Kami berpuasa tak kenal waktu dan meratapi semua kejadian ini,” kata Mai Hakeema (50) sambil memandangi suaminya yang sedang sekarat di sebuah tenda kecil di Kota Sukkur.

Di bulan yang paling dinanti umat Muslim sedunia ini, berpuasa dari subuh hingga maghrib menjelang adalah saat yang tepat untuk mengontrol hawa nafsu dan memberikan perhatian pada kaum miskin. Namun bila bencana alam menghanyutkan semua yang kita miliki dan hanya menyisakan keadaan memilukan apa yang bisa kita lakukan ?

Jutaan orang kelaparan dan sakit hingga tak memungkinkan untuk menjalankan ibadah puasa secara layak seperti tahun-tahun sebelumnya. Mereka harus berjuang hidup dari bantuan yang datangnya tidak bisa dipastikan.

“Saya sedih tidak bisa menjalankan puasa hari pertama dengan baik. Nanti kalau sudah bisa pulang ke rumah, saya akan menjalankan puasa dengan benar. Saat ini saya hanya bisa melakukan apa yang saya bisa lakukan, saya tidak mungkin melewatkan bulan penuh berkah ini begitu saja,” kata Ghullam Fareed of Gormani di desa sebelah timur propinsi Punjab.

“Ini bencana alam yang sangat dahsyat. Ada tanggungjawab besar di hadapan kami. Jumlah korban tewas terus bertambah tapi jumlah warga yang mulai terserang berbagai penyakit amat sangat besar,” kata ketua tim relawan PBB John Holmes kepada diplomat dari berbagai negara saat melakukan pertemuan di New York.(nisa_kirei)

Source: dari berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s