Aspek-Aspek Identitas Sosial: Self dan Gender

Identitas social (social identity) adalah definisi seseorang tentang siapa dirinya termasuk di dalamnya atribut pribadi (self concept) serta keanggotaan dalam berbagai kelompok (aspek yang dimiliki bersama dengan orang lain. Contoh: saya adalah mahasiswa IPB (identitas sosial saya adalah sebagai mahasiswa IPB). Identitas social mencakup nama, konsep diri, hubungan interpersonal, afiliasi politik, gender, atribut yang tidak disukai beberapa orang, afiliasi etnis atau religious, pekerjaan, hobby.

Identitas social dapat dikonseptualisasikan paling baik dalam empat dimensi (Jackson and Smith, 1999):

  1. Persepsi dalam konteks antar kelompok (hubungan antara in-group seseorang dengan grup perbandingan yang lain)
  2. Daya tarik in-group (afek yang ditimbulkan oleh in-group seseorang)
  3. Keyakinan yang saling terkait (norma dan nilai yang menghasilkan tingkah laku anggota kelompok ketika mereka berusaha mencapai tujuan dan berbagi keyakinan yang sama)
  4. Depersonalisasi (memandang dirinya sendiri sebagai contooh dari kategori social yang dapat digantikan dan bukannya individu yang unik), orang kehilangan identitas pribadinya karena meleburkan dirinya ke dalam identitas kelompok.

Identitas social berperan dalam hubungan antar kelompok tergantung pada dimensi yang dapat diterima (aman atau tidak aman). Ketika identitas aman memiliki derajat yang tinggi, individu cenderung mengevaluasi out-groups lebih baik, lebih sedikit bias bila membandingkan in-group dengan out-group, dan kurang yakin pada homogenitas in-group. Sebaliknya, identitas tidak aman dengan derajat yang tinggi, berhubungan dengan evaluasi yang sangat positif terhadap in-group, bias lebih besar dalam membandingkan in-group dengan out-group, dan persepsi homogenitas in-group yang lebih besar.

Proses pembentukan identitas diri:

  • Interaksi social dengan keluarga langsung. Contoh: dalam kelurganya Susi selalu dinasehati: “Kita ini keluarga terpelajar, jadi jangan sampai nilai kamu kalah dari yang lainnya!”, maka dalam diri Susi ada konsep diri keluarga terpelajar.
  • Interaksi social dengan orang lain sepanjang hidup. Contoh: teman-teman Susi selalu mengatakan, “Susi baik sekali yah”, “dia anak yang baik yah”, maka dalam diri Susi terbentuk konsep diri orang baik.
  • Hereditas. Contoh: Orang Cina kulitnya kuning.

Ketika konteks social seseorang berubah, membangun sebuah identitas social baru dapat menjadi sumber stress yang besar. Perilaku coping yang muncul: 1) semakin mengidentifikasi diri pada identitas yang ada; atau 2) berasimilasi dan mengidentifikasi diri dengan konteks yang baru.

Konsep self adalah identitas diri seseorang sebagai suatu skema dasar yang terdiri dari kumpulan keyakinan dan sikap terhadap diri sendiri yang terorganisir. Berfungsi untuk mengolah informasi tentang diri sendiri, motivasi, keadaan emosional, kemampuan, dll. Kita bekerja sangat keras untuk melindungi citra diri kita dari informasi yang mengancam, untuk mempertahankan konsistensi diri kita, dan untuk menemukan alasan pada setiap inkonsistensi. Self defensive yaitu ketertutupan pada informasi muncul ketika sadar tidak disukai orang lain. Orang cenderung menolak perubahan dan salah memahami atau berusaha meluruskan informasi yang tidak konsisten dengan konsep diri mereka. Ketika perhatian difokuskan pada aspek yang tidak berhubungan dengan identitas seseorang, hasilnya ia akan lebih terbuka pada informasi dan sikap untuk mempertahankan dirinya sendiri akan berkurang.

Self berevolusi sebagai sebuah karakteristik adaptif. Tahapan evolusi konsep self:

  1. Kesadaran diri subjektif (subjective self-awareness): kemampuan membedakan diri dan lingkungan fisik dan sosialnya. Tahap ini terjadi saat kita masih kecil. Contoh: ketika kita mulai bisa membedakan diri kita dengan lingkunga. dan orang lain.
  2. Kesadaran diri objektif (objective self-awareness): kemampuan menjadikan diri sendiri sebagai obyek perhatian, kesadaran akan pikirannya (mengetahui dan mengingat). Tahap ini terjadi ketika kita mulai dewasa. Contoh: saat kita berkata kasar dengan orang lain, seringkali kita berpikir: “seharusnya saya tidak sejudes itu tadi, saya kasar sekali yah.”
  3. Kesadaran diri simbolik (symbolic self-awareness): kemampuan membentuk representasi kognitif diri yang absrak melalui bahasa yang memungkinkan manusia berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungannya. Contoh: konsep diri Rudi: Saya adalah seorang OB (office boy). Maka konsep diri seorang OB yang dimiliki oleh Rudi itu akan membantunya bersikap sebagai seorang OB di kantornya (mau disuruh-suruh, dll).

Elemen pembentuk konsep diri ada 5, yaitu:

  1. Identitas social, contoh: identitas kita sebagai anggota kelompok tertentu, contoh: saya adalah mahasiswa IPB, saya orang Jawa.
  2. Atribut personal, apa yang saya miliki. Contoh: saya memiliki tinggi 167cm
  3. Pengalaman masa lalu
  4. Kondisi saat ini, contoh: Rudi baru saja di PHK, maka saat ini konsep diri Rudi adalah “saya orang yang di PHK.”
  5. Harapan di masa depan atau rangkuman memori, pengetahuan dan imajinasi tentang diri sendiri, contoh: Susi ingin menjadi Pragawati ketika dewasa, maka konsep diri “saya calon pragawati” telah tertanam di diri Susi dan membentuk tingkah lakunya: jalan berlenggak-lenggok.

Skema diri adalah rangkuman dari semua yang diingat, pengetahuan dan imajinasi yang dimiliki seseorang tentang dirinya. Skema mempengaruhi tingkah laku.perlunya memiliki konsep diri yang jelas untuk menjadi seseorang yang diinginkan. Efek self –reference adalah efek dari perhatian dan memori yang terjadi karena pemrosesan kognitif terhadap informasi yang relevan terhadap diri lebih efisien daripada pemrosesan terhadap informasi jenis lain, contoh: Orang lebih tertarik dengan orang yang memiliki nama yang sama dengan nama kita, atau menyukai hal-hal yang huruf awalnya sama dengan huruf awal nama kita. Contoh lainnya: Nisa mahasiswi IPB membaca artikel tentang Mahasiswa berprestasi di seluruh Indonesia, pastinya hal pertama yang Nisa cari adalah mahasiswa dari IPB.

Konsep diri terstruktur menjadi 2 bagian, yaitu:

  1. Konsep diri sentral, yaitu konsep diri inti dan cenderung ekstrem, yang bisa positif atau negative dan relative sulit dirubah karena dielaborasi lebih detil, di konsolidasi lebih kuat, dan diyakini dengan kepastian yang lebih besar.
  2. Konsep diri peripheral, yaitu konsep diri yang tidak terlalu kuat terbentuk dan relative mudah dirubah.

Contoh dari konsep diri sentral dan peripheral: Susi sangat ahli di bidang matematika, kalau soal matematika dia pakarnya. Sementara di bidang seni, olahraga dan lainnya dia tidak begitu hebat. Di sini, kkonsep diri sentral Susi adalah ahli matematika, sedangkan bidang lainnya adalah konsep diri periferalnya.

Bentuk lainnya dari konsep diri, ada yang dikenal dengan skema diri seksual (sexual self-schema) yaitu representasi kognitif terhadap aspek seksual diri sendiri (negative/positif) yang mempengaruhi perilaku seksualnya. Contoh: skema diri seksual wanita cenderung hangat, malu-malu, dan romatis. Sementara skema diri seksual pria cenderung penuh gairah, konservatif, dsb.

Selain itu, ada pula konsep diri social (social self) yaitu suatu identitas kolektif yang menyangkut hubungan interpersonal dan aspek identitas yang berasal dari keanggotaan dalam kelompok yang lebih besar dan tidak personal, yang didasarkan pada ras, etnis, dan budaya. Contoh: saya orang Indonesia. Konsep diri social ini terdiferensiasi dan didefinisikan dengan baik seiring pertambahan usia. Contoh: waktu kecil konsep diri social Susi hanya saya murid SD Angkasa, setelah dewasa konsep diri social Susi berkembang/bertambah: saya karyawan PT CNI, saya ibu di keluarga x, saya anggota arisan Z, dst, dst.

Budaya dapat mempengaruhi konsep diri seseorang. Misalnya budaya Individualistik pada masyarakat Amerika dan budaya kolektivitas pada masyarakat Jepang dan Cina. Budaya individualistis menghasilkan konsep diri sebagai pribadi unik dan memiliki atribut positif menjadi diri sendiri tidak peduli pada konteks apapun. Contoh: Susi dari budaya individualis, ketika orang memuji dia pintar, dia akan bilang bahwa itu karena saya memang hebat, itu semua berkat kerja keras saya. Sementara budaya kolektivis menghasilkan konsep diri yang selalu mendefinisikan diri pada situasi dan orientasi kritik pada diri sendiri. Contoh: Rudi dari budaya kolektivitas, ketika orang memujinya karena prestasinya, dia akan bilang ‘itu semua berkat doa dan dukungan kalian.’ Perbedaannya adalah antara konsep diri yang menetap dan stabil vs konsep diri yang dengan mudah berganti dan berubah.

Konsep diri mencakup:

  • Konsep diri saat ini
  • Possible selves: representasi mental terhadap kemungkinan akan menjadi apa atau seharusnya menjadi apa seseorang di masa depan. Possible selves bisa memotivasi diri kita sendiri. Contoh: Susi sejak kecil suka bermain piano, orang-orang sering memuji kemahirannya bermain piano. Tumbuh possible selves dalam dirinya bahwa: saya calon maestro piano yang terkenal, yang selanjutnya possible selves ini memotivasi Susi mencapai cita-citanya.
  • Working self-concept: konsep diri pada saat tertentu. Contoh: Susi menjadi coordinator medis di kepanitiaan MPD, maka ‘saya seorang koor medis’ adalah konsep diri Susi saat itu sehingga dia tau apa tugas-tugasnya, kewajibannya.

Factor yang mempengaruhi konsep diri ada 5:

  1. Factor biologis
  2. Keinginan diri sendiri
  3. Perubahan hidup yang besar
  4. Perubahan kerja
  5. Significant other (orang yang berarti buat diri pribadi) yang berpengaruh pada interaksi social. Contoh: dulu sebelum berpacaran dengn Susi, Rudi adalah pria yang pendiam dan kalem. Setelah mengenal dan berpacaran dengan Susi, Rudi lebih PD dan berani show up.
  6. Intensitas hubungan sangat berperan dalam perubahan konsep diri

Self-esteem adalah evaluasi diri yang dibuat oleh setiap individu; sikap seseorang terhadap dirinya sendiri dalam rentang dimensi positif dan negative. Tujuan orang melakukan self-esteem:

  1. Self-assesment (memperoleh pengetahuan yang akurat tentang diri sendiri), lebih banyak terjadi pada masyarakat kolektivistis.
  2. Self-enhancement (mempoeroleh innformasi positif), lebih banyak terjadi pada masyarakat individualistis.
  3. Self verification (melakukan konfirmasi atas sesuatu yang sudah diketahui), terjadi pada orang yang esteem nya rendah dan berpandangan negative tentang dirinya sendiri dan tidak mau berubah.

Memiliki self-esteem yang tinggi berarti individu menyukai dirinya sendiri. Evaluasi positif ini sebagian berdasarkan opini orang lain dan sebagian lagi berdasarkan pengalaman spesifik. Perbedaan budaya juga mempengaruhi apa yang penting bagi self-esteem seseorang. Tingkah laku individu dengan sel-esteem yang rendah lebuh mudah diprediksikan daripada individu dengan self-esteem yang tinggi karena skema diri negative diorganisasi lebih ketat daripada skema diri yang positif.

Self-esteem sering kali diukur sebagai sebuah peringkat dalam dimensi yang berkisar dari negative sampai positif atau dari rendah sampai tinggi. Sebuah sumber informasi utama yang relevan dengan evaluasi diri adalah orang lain—kita menilai diri sendiri atas dasar perbandingan social (social comparison) (Wayment & Taylor, 1995). Perbandingan social ke bawah (downward social comparison) adalah membandingkan diri Anda dengan orang lain yang lebih buruk dalam atribut-atribut tertentu. Perbandingan social ke atas (upward social comparison) adalah membandingkan diri Anda dengan orang lain yang lebih baik dalam atribut-atribut tertentu.

Ketika kompetensi actual seseoranng tidak sesuai dengan evaluasi dirinya, hasilnya disebut self-esteem paradox—yaitu self-esteem yang tidak realistis, baik tinggi maupun rendah. Contoh: Rudi dengan tim futsal underdognya akan melawan tim pro, tim underdog itu berpikir positif bahwa mereka pasti bisa mengalahkan tim pro tersebut yang jelas-jelas jauh lebih hebat dari mereka.

Karena self-esteem tinggi umumnya lebih disukai daripada self-esteem rendah, kebanyakan orang berusaha mengubah self-esteem mereka kea rah evaluasi diri yang lebih positif yaitu melalui psikoterapi yang bertujuan meningkatkan self-esteem dan menurunkan perbedaan antara self dan self ideal dengan memberikan penghargaan positif tanpa syarak (unconditional positif regard) pada klien. Umpan balik palsu yang menyatakan bahwa hasil individu bagus dalam tes kepribadian akan menungkatkan self-esteem mereka, umpan balik positif juga memiliki efek yang serupa. Pengalaman masa lalu (dalam keluarga atau sekolah) juga dapat mengubah self-esteem.

Fungsi self ada 3, yaitu:

  1. Self focusing (memfokuskan perhatian pada diri atau pada dunia eksternal) adalah tingkah laku yang mengarahkan perhatian seseorang kepada diri sendiri daripada sekelilingnya. Self focusing ini bagus, tapi jangn terlalu berlebihan sehingga menyebabkan kita tidak mempedulikan lingkungan sekitar.
  2. Self monitoring (memonitor tingkah laku dengan menggunakan tanda-tanda internal atau eksternal) yaitu pengaturan tingkah laku seseorang dengan dasar situasi eksternal, seperti bagaimana orang lain bereaksi (self-monitoring yang tinggi) atau dengan dasar factor internal, seperti keyakinan, sikan, dan nilai (self-monitoring yang rendah). Contoh: jaim
  3. Self efficacy (percaya pada diri sendiri) yaitu keyakinan seseorang akan kemampuan atau kompetensinya atas kinerja tugas yang diberikan, mencapai tujuan, atau mengatasi sebuah hambatan. Kita menilai diri kita bisa atau tidak melakukan sesuatu.

Sumber: Psikologi Sosial, Robert A. Baron dan Dann Byrne

One thought on “Aspek-Aspek Identitas Sosial: Self dan Gender

  1. arrtikelnya bagus skali dan sumber bukunya jga jelas, sama dengan buku yang di pakai di kampusku. tapi kalau boleh minta tolong share juga dong yang judulnnya ketertarikan interpersonal.
    trims🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s