Memahami Pemecahan Masalah Dalam Komunikasi Kelompok


Ketika ada masalah utk dipecahkan, mengapa suatu kelompok ataupun komite biasanya dibentuk?

Pertama-tama suatu kelompok harus menentukan tujuannya dulu. Kadang suatu kelompok secara spesifik terbentuk untuk suatu tugas tertentu  Dapat pula kelompok menentukan tujuan spesifiknya, setelah pembentukkan kelompok. Apabila  kelompok menetapkan bahwa fungsinya ialah untuk memecahkan masalah, maka ia kemudian harus mendefinisikan masalahnya sehingga setiap orang mengerti dengan persis apa yang dihadapi.

Bagi kelompok tertentu, mendefinisikan masalah itu mudah. Bagi kelompok lain, menyetujui sifat-sifat pasti masalah memerlukan waktu lama dan perdebatan. Setelah merumuskan masalahnya, suatu kelompok akan mencoba memecahkannya. Dengan 4/5 anggota yang berbeda nilai, atitude dan kepercayaan, pemecahan masalah dapat menjadi tugas yang sulit.

Pemecahan masalah kelompok sering menimbulkan ketidakpastian. Setiap individu mengembangkan cara-cara yang unik untuk memecahkan masalah individual. Apabila suatu kelompok menghadapi suatu masalah, setiap orang mencoba memecahkan masalah itu berdasarkan strategi pemecahan masalahnya sendiri. Tidak ada 2 anggota kelompok yang akan mendekati permasalahan dari perspektif yang sama. Adanya perbedaan pendekatan ini, mengakibatkan setiap anggota kelompok menjadi tidak yakin akan strateginya, dan tidak pula paham akan strategi orang lain. Kesabaran, pengertian dan komunikasi yang efektif diperlukan untuk mengatasi ketidakpastian ini.

Memformulasikan Pertanyaan-pertanyaan diskusi

  • Research:

–        Mulai dengan Hipotesa suatu dugaan berdasarkan teori maupun riset sebelumnya tentang apa yang akan ditemukan dalam pencaharian pengetahuan baru.

–        Dapat juga dimulai dgn  merumuskan pertanyaan riset, yang memberikan fokus yang diperlukan dan arah pada riset.

Seperti riset, kelompok melakukan pemecahan masalah dengan mencari jawaban pada pertanyaan-pertanyaan itu.  Jadi, sangat penting bagi anggota kelompok untuk memformulasikan suatu pertanyaan sebelum mencari jawabannya. Dengan mengidentifikasikan suatu pertanyaan yang spesifik, anggota-anggota kelompok dapat mengurangi kebimbangan-kebimbangan yang mula-mula timbul dalam diskusi mereka.

Merumuskan kalimat pertanyaan diskusi harus dilakukan dengan hati-hati.  Ia merupakan bagian yang penting dari inisiasi & pengorganisasian setiap kel diskusi terutama diskusi pemecahan masalah.  Oleh karena itu kualitas & kespesifikan suatu pertanyaan biasanya menentukan kualitas jawabannya.

Ada 3 Tipe Pertanyaan Diskusi, Yaitu :

  1. 1. Pertanyaan tentang fakta

Pertanyaan tentang FAKTA mempersoalkan apakah sesuatu telah terjadi atau tidak terjadi.  Jawabannya menentukan apa yang Benar dan apa yang Salah. Biasanya Pertanyaan serupa ini dapat dijawab dgn satu dari 2 kemungkinan, yaitu YA atau TIDAK. Namun demikian, pertanyaan serupa ini sebenarnya tidaklah semudah itu. Dalam hal ini, penting sekali untuk mendefinisikan kata-kata/kalimat kritikal dalam pertanyaan itu. Sebelum menetapkan apakah kelompok akan menyelidiki pertanyaan serupa ini.   Pertama,  pertimbangkan  tujuan kelompok.  Jika kelompok hendak menentukan apa yang Benar dan apa yang Salah, maka rumuskanlah pertanyaan Fakta, dan definisikan “Key Words” dalam pertanyaan tersebut untuk memperjelas fokus dan ketajamannya.

  1. 2. Pertanyaan tentang nilai

Biasanya Menimbulkan suatu diskusi yang hidup.  Karena: Ia berpautan dengan Atitude, Kepercayaan & Nilai, tentang apakah suatu “issue” itu Baik atau Buruk, atau Benar atau Salah.

Suatu Atitude ialah: suatu predisposisi yang dipelajari untuk memberikan respons pada orang lain, obyek ataupun idea. Dalam suatu cara yg “favorable”, netral atapun “unfavorable.” Pada hakekatnya atitude yang Anda miliki tentang lingkunganmu menentukan apakah Anda menyukai atau tidak menyukai apa yang dialami & diamati.

Suatu Kepercayaan ialah: cara dimana Anda menetapkan apa yang Benar & apa yang Salah atau cara Anda memberi struktur pada realita.

Suatu nilai ialah: suatu konsepsi yang mantap tentang Baik & Buruk. Suatu nilai lebih sulit diubah daripada suatu atitud ataupun kepercayaan.

Masing-masing individu akan menilai keadaan dalam kelompok berdasarkan 5 hal, yakni:

  • Memori
  • Nilai ialah : Sentral bagi Perilaku kita
  • Kepercayaan dipengaruhi oleh Nilai
  • Attitude (Sikap) yang kita pegang disebabkan oleh Nilai yang kita anut & Kepercayaan kita
  • Pengalaman yang lalu

3. Pertanyaan tentang policy

Pertanyaan memecahkan masalah atau mencapai suatu keputusan. serupa ini disusun untuk membantu kelompok menentukan apa arah tindakan ataupun perubahan policy apa yang perlu dilakukan. Pertanyaan “policy” mudah dikenal, karena jawabannya memerlukan tindakan atau perubahan “policy” ataupun prosedur.  Misal :  Apa yang dapat dilakukan tentang … ? Apa yg harus dilakukan untuk memperbaiki ..?

    1. Suatu pertanyaan “policy” yang baik harus menunjukkan bahwa ada suatu masalah spesifik yg harus dipecahkan  atau ada suatu keputusan yang harus diambil.
    2. Suatu pertanyaan “policy” yang baik terbatas ruang lingkupnya.
    3. Suatu pertanyaan “policy” haruslah controversial.

Dua pendekatan permasalahan kelompok

  1. DESKRIPTIF. Pendekatan Deskriptif menunjukkan bagaimana kelmpk memecahkan masalah. Pendekatan Deskriptif membantu kelompok memahami bagaimana biasanya memecahkan masalah.
  2. PRESKRIPTIF. Pendekatan Preskriptif menggunakan agenda yang telah ditentukan terlebih dahulu untuk membantu kelompok memecahkan masalah secara efisien dan efektif. Pendekatan Preskriptif menawarkan saran-saran spesifik bagi pengembangan kelompok.
  3. I. Pendekatan Deskriptif

PHASE 1 :  ORIENTASI

Setiap orang mulai berinteraksi satu sama lain untuk meletakkan dasar bersama agar dapat berfungsi.

–  mencoba mengetahui satu sama lain.

–  mengetahui latar belakang masing-masing

–  mencoba mendekati tugas kelompok.

PHASE 2 : KONFLIK

Anggota mulai menunjukkan individuality mereka dan memberikan respons favorable / unfavorable pada arah usul-usul tugas kelompok.  Dengan polarisasi sikap/atitud ini, perseteruan/konflik biasanya terjadi.

Konflik diperlukan untuk mengidentifikan dengan jelas “TASK ISSUE” yang dihadapi kelompok, memperjelaskan peranan anggota, mengurangi kebimbangan dan menciptakan norma kelompok.

PHASE 3 : PEMUNCULAN

  • Resolusi konflik
  • Timbul “ambiguity” dalam pernyataan-pernyataan yg berhubungan dengan tugas kita
  • Dimensi tugas & proses terjalin satu sama lain
  • Terdapat ketidaksetujuan yang kuat dalam kelompok  dan juga kejelasan.
  • Pola kepemimpinan & peranaissue” dan masalah yang dihadapi kelompok telah diidentifikasi.
  • Kebutuhan untuk mengatasi perbedaan dan consensus jadi nyata.
  • Semangat persatuan kelompok telah ditentukan.

“PHASE 4 : REINFORCEMENT

  • Semangat timbul
  • Ekspresikan perasaan positif pada kelompok dan keputusan kelompok
  • Timbul rasa telah menghasilkan sesuatu yang tulus.
  • Re-inforcement keputusan kelompok dan Anggota kelompok mewarnai komunikasi.

2 thoughts on “Memahami Pemecahan Masalah Dalam Komunikasi Kelompok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s