Manajemen Konflik Dalam Kelompok


Makna Konflik

Konflik timbul ketika ada perbedaan di antara anggota kelompok dalam hal personaliti, persepsi, informasi dan banyaknya kekuasaan atau pengaruh. Dampak positif: Memberi peluang pada kelompok untuk menguji & menantang ide-ide baru. Dampak negatif adalah:

  • Menghalangi kelompok menyelesaikan tugas
  • Menurunkan kualitas keputusan kelompok
  • Membahayakan eksistensi kelompok

Kekeliruan asumsi tentang konflik

Semakin serupa attitude, kepercayaan, nilai, pengalaman, dll dari anggota kelompok akan semakin kecil kemungkinan terjadinya konflik. Kelompok yang terdiversifikasi (tidak homogen) harus mengharapkan adanya perbedaan & konflik & juga harus mencoba menggunakan perbedaan-perbedaan mereka dalam pengamalan & persepsi untuk meningkatkan kualitas keputusan kelompok

Mitos dalam Kelompok

Konflik harus dihindari, selama diskusi kelompok. Menekan perbedaan pendapat sebagai produk ikutan komunikasi sebenarnya konflik penting untuk dinamika komunikasi kelompok. Konflik terjadi karena orang tidak saling mengerti

Padahal ada juga konflik yang terjadi antar orang yang saling memahami & bukan karena salah pengertian selain itu Konflik dapat disolusikan begitu saja. INTINYA: Fokus pada perbedaan-perbedaan yang dapat disolusikan.

Berpikir kelompok

Timbul ketika: suatu kelompok berusaha meminimalisasikan konflik & mencapai konsensus dengan mengorbankan testing, analisis & evaluasi ide-ide secara kritis

Berpikir kurang kritis terjadi ketika suatu kelompok mencapai keputusan terlalu cepat tanpa mempertimbangkan implikasi keputusan dgn baik. Pemimpin sangat berpengaruh, sehingga ide-idenya dianggap bernilai tinggi & tdk boleh dilanggar sehingga tidak banyak yg tidak setuju. Kelompok sangat kohesif.

Korban Berpikir Kelompok

Kelompok yg cepat menyetujui sesuatu, walau sebenarnya memerlukan pertimbangan yg serius. Pertemuan efektif, tdk ada kebimbangan. Pemimpin mendapat dukungan penuh dari kelompok dan segalanya terlihat baik.

Padahal, Kelompok sebenarnya tdk berfungsi sebagaimana seharusnya. Tidak mengambil manfaat keunggulan kerjasama kelompok

Gejala-gejala berpikir kelompok

  • Berpikir kritikal tdk digalakkan atau tdk dihargai
  • Anggota kelompok merasa bahwa kelompok mereka tdk melakukan kesalahan
  • Anggota kelompok sangat memperhatikan bagaimana cara membenarkan tindakan-tindakan mereka
  • Anggota kelompok menekan anggota lain yg tdk mendukung kelompok
  • Anggota kelompok sering mempercayai bahwa mereka telah mencapai suatu konsensus yg sebenarnya
  • Anggota kelompok sangat prihatin dengan cara mendorong kepercayaan pemimpin pada anggota yang lain

Mengurangi Cara Berpikir Kelompok

  • Pemimpin kelompok harus menggalakkan cara berpikir kritis & independen
  • Anggota-anggota kelompok harus sensitif pada perbedaan status yg dpt mempengaruhi pembuatan keputusan kelompok
  • Undang orang dari luar kelompok untuk mengevaluasi proses pembuatan keputusan kelompok
  • Menugasi seorang anggota kelompok untuk memainkan peran sebagai Dentus Aduocate
  • Bagi kelompok menjadi sub-sub kelompok  (bekerja sendiri) & pertimbangkan masalah-masalah potensial dgn solusi-solusi yg disarankan

Konsensus (suatu tujuan kelompok yang berorientasi tugas)

Sifat-sifat Konsensus

  • Konsensus jangan terlalu cepat dicapai >> untuk mempercepat konsensus persetujuan terhadap butir-butir masalah yang kecil-kecil harus dikemukakan >> ini perlu waktu
  • Konsensus tercapai jika seluruh anggota sepakat dgn saran yg diajukan
  • Konsensus timbul dari komunikasi interpersonal yang hati-hati & menyita pikiran anggota kelompok
  • Konsensus dapat terjadi secara individual atau kolektif
  • Jika 2/3 anggota kelompok belum bersepakat berarti konsensus belum tercapai, tunda dulu
  • Jika konsensus tdk mungkin dicapai maka kelompok mengacu pada keputusan mayoritas.

Saran-saran untuk mencapai consensus

  1. Hindari utk selalu beragumentasi utk kepentingan posisi Anda sendiri; jangan terlalu defensif
  2. Jangan berpendapat bahwa seseorang harus menang & yang lain harus kalah
  3. Jangan mengubah pendirian terlalu cepat hanya utk menghindari konflik
  4. Hindari teknik-teknik mudah utk mengurangi konflik
  5. Libatkan tiap orang dalam diskusi & jadilah orang yang berkontribusi tetap pada kelompok
  6. Gunakan kata KITA & MILIK KITA daripada SAYA & MILIK SAYA
  7. Gunakan istilah META DISKUSI >>Diskusi tentang diskusi
  8. Orientasikan kelompok pada tujuan
  9. Hindari pernyataan yang dapat menunjukkan sikap tertutup
  10. Upayakan untuk memperjelas salah pengertian dalam makna.

e=’mar� �lf�� P� mso-add-space:auto; text-align:justify;text-indent:-.25in;mso-list:l3 level1 lfo2′>3.       Setelah anggota-anggota kelompok memahami dengan jelas masalahnya, dan mereka tahu aturan-aturan dasar Brainstorming, ajak mereka untuk berpikir mencari sebanyak mungkin solusi pada masalah sedapat-dapatnya. Pertimbangkan saran-saran berikut ini:

#.  Semakin luar biasa idenya, semakin baik

#.  Lebih mudah untuk menyempurnakan ide yang telah ada dari pada melahirkan ide yang belum ada

#.  Berpikir keras dan lontarkan ide-ide yang tidak biasa

#.  Ide seseorang yang agak luar biasa, dapat melahirkan suatu solusi yang baik dari orang-orang lain dalam kelompok.

  1. Yakinkan bahwa anggota-anggota mengerti bahwa mengembangkan ide-ide berdasarkan ide orang lain berguna. Kombinasi ide-ide dan tambahkan yang lain.
  2. Tugaskan seorang untuk mencatat ide-ide yang telah disebutkan.
  3. Beberapa kelompok  memerlukan  bahwa  ide-ide  lebih baik dievaluasi pada “sessi”akhir. Pertimbangkan hal ini:

6.1.  Dekati setiap idea secara positif dan beri pengujian yang adil

6.2.  Coba untuk membuat agar ide-ide dapat diaplikasikan

6.3.  Apabila sejumlah kecil saja dari ide-ide yang dihasilkan kelompok dapat digunakan, maka sessi tersebut telah berhasil.

3. PENDEKATAN YANG BERORIENTASI PERTANYAAN PADA PEMECAHAN MASALAH

  1. Format Solusi Ideal

Di sini kelompok diminta menjawab serangkaian pertanyaan yang didesain untuk membantu mengidentifikasikan solusi yang ideal pada masalah.  GOLDBERG & LARSON  menyarankan agar :

a.  Apakah kita semua setuju dengan sifat-sifat atau asal masalah?

b.  Apakah solusi ideal bagi semua pihak yang terlibat dalam masalah itu?

c.  Kondisi apa dalam masalah tersebut yang dapat diubah sehingga solusi ideal dapat dicapai?

d.  Dari solusi yang tersedia bagi kita, yang mana yang terbaik yang kira-kira mendekati solusi ideal?

2.   Format Pertanyaan Tunggal

Sama seperti Format Solusi Ideal, yang ini pun memerlukan jawaban pada serangkaian pertanyaan, yang didesain untuk mengarahkan kelompok pada solusi yang terbaik pada masalah itu. GOLDBERG & LARSON  menyarankan agar menjawab kelima pertanyaan berikut ini untuk mencapai tujuannya :

a.  Apa pertanyaan yang jawabannya hendak diketahui seluruh kelompok untuk mencapainya?

b.  Apa sub-pertanyaan yang harus dijawab sebelum kita dapat menjawab pertanyaan tunggal yang telah diformulasi?

c.  Apakah kita memiliki informasi yang cukup untuk menjawab sub-pertanyaan dengan meyakinkan? (Jika ya, jawaban mereka;  Jika tidak, teruskan yang berikutnya!)

d.  Apa jawaban yang paling sesuai utk sub-pertanyaan sub-pertanyaan itu?

e.  Jika jawaban kita pada sub-pertanyaan sub-pertanyaan itu benar, maka apa solusi yang terbaik pada masalah itu?

Perbedaan utama  di antara  Format Pertanyaan Tunggal dan  Format: Pertanyaan ideal adalah bahwa Format Pertanyaan Tunggal menuntut agar kelompok memformulasikan suatu pertanyaan untuk mengumpulkan informasi yang perlu untuk pemecahan masalah. Format ini juga membantu kelompok mengidentifikasi dan memecahkan isu yang dihadapi sebelum mereka memperoleh solusi.

Teknik lain pada pemecahan masalah di smallgroup adalah “training sensitif” dan diskusi kelompok efektif.  Keduanya pada  umumnya akan merobah sikap seseorang tanpa merasakan adanya suatu tekanan.  Namun demikian terdapat perbedaan, yakni:

  1. 1. Training sensitif barangkali menyangkut tujuan individu, sedangkan kelompok diskusi adalah tujuan kelompok.
  2. 2. Training sensitif mendorong memeriksa pengalaman sendiri bersama lingkungan emosi, sedangkan kelompok diskusi memusatkan permasalahan yang dapat dipecahkan melalui pemikiran kembali.
  3. 3. Dasar utama Training sensitif biasanya adalah untuk mencapai pengertian lebih mendalam dari diri sendiri, sedangkan pada diskusi kelompok lebih menekankan penyelesaian suatu masalah.
  4. 4. Pada Training sensitif biasanya tidak ada pimpinan formal, sedangkan pd diskusi kelompok ditunjuk seorang pimpinan.

Teknik lainnya lagi, Widya Wisata, dimana kelompok tsb membandingkan apa yang telah dicapai kelompok lain, dan bagaimana mereka mencapai hal tersebut.

Sadar akan kekurangan pengetahuan, maka teknik lain adalah dengan kursus-kursus, atau latihan periodik yang diikuti anggota atau pengurus kelompok.

2 thoughts on “Manajemen Konflik Dalam Kelompok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s