Pengangguran, Migrasi dan Urbanisasi

Kaitan positif antara urbanisasi dan pendapatan per kapita adalah salah satu “fakta yang dibengkokkan” yang paling jelas dan mengejutkan dari proses pembangunan. Umumnya, semakin maju suatu Negara, yang diukur dengan pendapatan per kapita, semakin banyak jumlah penduduk yang tinggal di daerah perkotaan. Ketika banyak Negara menjadi lebih urban seiring dengan kemajuan pembangunannya, dewasa ini Negara-negara miskin ternyata jauh lebih urban daripada Negara-negara maju dulu pada saat tingkat pembangunannya setara, sebagaimana diukur dengan pendapatan per kapita; dan Negara-negara berkembang mengalami urbanisasi pada tingkat yang lebih cepat. Urbanisasi dapat terjadi di mana saja di seluruh dunia, meskipun pada laju yang berbeda. Hampir semua kenaikan jumlah penduduk dunia akan berasal dari pertumbuhan kawasan pedesaan ke kawasan perkotaan dan sejalan dengan laju urbanisasi di Dunia Ketiga yang terus mendekati tingkat pertumbuhan yang terjadi di Negara maju. Mungkin lonjakan jumlah penduduk di perkotaan memang akan membawa manfaat ekonomi tertentu. Namun, biaya-biaya social yang akan muncul juga luar biasa besarnya.

Seiring dengan meluasnya urbanisasi dan bias urban (urban bias) dalam strategi pembangunan, tumbuh subur pula kantung-kantung pemukiman kumuh (slum) dan kampong-kampung di tengah kota yang sangat padat (shantytown). Meskipun pertumbuhan penduduk dan migrasi dari desa ke kota yang terus menerus menigkat merupakan penyebab utama semakin banyaknya pemukiman kumuh di perkotaan, namun sebagian lagi disebabkan oleh pihak pemerintah di masing-masing Negara paling miskin. Kekeliruan perumusan dan/atau pelaksanaan kebijakan pemerintah dalam pengembangan daerah perkotaan serta perencanaan tata kota yang sering ketinggalan jaman mengakibatkan 80-90% perumahan yang ada di daerah perkotaan sekarang ini tergolong “illegal”.

Secara umum, seuah kota terbentuk karena dapat memberikan keunggulan dari segi biaya kepada produsen dan konsumen, melalui ekonomi aglomerasi (agglomeration economics). Walter Island menyebutkan bahwa ekonomi aglomerasi muncul dalam dua bentuk. Pertama, ekonomi urbanisasi (urbanization economics) yaitu dampak-dampak yang nerkaitan dengan pertumbuhan kawasan geografis yang terpusat secara umum. Kedua, ekonomi lokalisasi (localization economics) yaitu dampak-dampak yang ditimbulkan oleh sector-sektor khusus dalam perekonomian, setelah sector-sektor itu berkembang dalam suatu daerah. Ekonomi lokalisasi seringkali muncul dalam bentuk keterkaitan ke depan maupun ke belakang.

Masalah Penting Angkatan Kerja;

  1. Penurunan mortalitas akan meningkatkan jumlah angkatan kerja, dan meningkatan angka kelahiran meningkatkan rasio beban ketergantungan dan angkatan kerja yang ada
  2. Dampak penurunan fertilitas thd angkatan kerja dan struktur usia baru terasa dlm jangka panjang walaupun fertilitas menurut drastis.

Kategori Pemanfaatan Tenaga Kerja

  1. Pengangguran terbuka (open unemployment):

–        Sukarela: ada pekerjaan tapi tidak sesuai

–        Terpaksa: tidak kebagian kerja

  1. Semi pengangguran (under employment): jam kerja kurang dari yang diinginkan (pekerja harian/musiman)

3. Aktif bekerja tapi kurang termanfaatkan

–        Semi pengangguran  terselubung (disguised underemployment): PNS ke kantor 8 jam kerja 2 jam

–        Hidden unemployment: sarjana ibu RT; ke sekolah S2 karena belum dapat kerja, (lembaga pendidikan dan RT sbg majikan terakhir/employer of last resort)

–        Pensiun dini

4. The impaired (kurang gizi/pengobatan)

5. The unproductive: tidak ada SD komplemen (punya sim tidak ada mobil)

Mekanisme utama dalam mengurangi kemiskinan dan ketidakmerataan distribusi pendapatan adalah dengan menciptakan lapangan kerja dengan upah memadai bagi kelompok penduduk paling miskin.

Fenomena dari peningkatan pengangguran dengan output pekerja

Prediksi ttg kemampuan industri modern di perkotaan untuk menyerap kelebihan TK pertanian tidak terpenuhi, sehingga terjadi kesenjangan antara kesempatan kerja dan output (output employment lag). Penyebabnya:

  1. NSB (khususnya pemerintah) memiliki kemampuan yg terbatas dalam menyerap angkatan kerja
  2. sektor industri modern bercirikan padat modal.

Model Ekonomi Determinasi masalah ketenaga kerjaan:

  1. model tradisional
  2. model klasik: persaingan pasar bebas
  • Sisi Demand: Sebagai input produksi, permintaan TK oleh perusahaan tergantung dari NPM (nilai produk marginal) dan harga produk (Py) (NPM ≥ Py)
  • Sisi penawaran: pekerja memaks. utility dari upah(W) dan leisure (L).  Maks f (W, L). Suplai TK berkorelasi positif dengan W

Makin tinggi permintaan terhadap tenaga kerja, maka makin murah upah yang ditawarkan.

Kelemahan model ini:

  • Pada sektor modern ada serikat kerja, yg menuntuk gaji minimum (UMR)
  • Pegawai negeri ada ketetapan pemerintah dalam penggolongan gaji
  • Penurunan wage (riil) sering diikuti penurunan lapangan kerja, shg pengangguran tetap tinggi
  1. Teori keynessian

Output nasional dan kesempatan kerja, berhubungan dengan permintaan agregat. Potensi output: jumlah output pada penggunaan SD dan teknologi secara penuh dan efisien

Y = C + I + G

One thought on “Pengangguran, Migrasi dan Urbanisasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s