Ummahat al-Mu’miin dan Pernikahan Nabi

“Nabi Muhammad SAW beristrikan wanita-wanita Arab dan Nonarab, wanita-wanita suku Quraisy dan non-Quraisy, wanita muslimah dan non-muslimah, perawan dan janda, bahkan sebelum menikah dengan Nabi diantara mereka ada yang beragama Kristen dan yahudi” (‘Amru Khalid dalam Ummahat al-Mu’miin).

Pernikahan Muhammad SAW dengan lebih dari satu wanita atau yang lebih dikenal dengan poligami ini seringkali dijadikan senjata oleh para orientalis dan non-muslim untuk men-judge Beliau dengan sebutan maniak sex, pecandu sex, hingga phedophilia karena menikahi Aisyah yang waktu itu masih berumur 7 tahun. Bahkan poligaminya Nabi besar Muhammad SAW ini sering dijadikan tameng bagi pria-pria yang berdalih “kan mencontoh nabi Muhammad” dalam urusan poligami.
Berikut ini nama-nama Ummahat al-Mu’miin (ibu-ibu kaum Mu’min), para istri Nabi Muhammad SAW:
1. Khadijah binti Khuwailid RA, ia dinikahi oleh Rasulullah SAW di Mekkah ketika usia beliau 25 tahun dan Khodijah 40 tahun. Dari pernikahnnya dengan Khodijah Rasulullah SAW memiliki sejumlah anak laki-laki dan perempuan. Akan tetapi semua anak laki-laki beliau meninggal. Sedangkan yang anak-anak perempuan beliau adalah: Zainab, Ruqoyyah, Ummu Kultsum dan Fatimah. Rasulullah SAW tidak menikah dengan wanita lain selama Khodijah masih hidup.
2. Sauda’ binti Zam’ah RA, seorang janda yang suaminya (As-Sakron bin Amr) pernah ikut mengungsi ke Abisinia dan kemudian meninggal setelah kembali ke Mekah. Sauda dinikahi oleh Rasulullah SAW pada bulan Syawwal tahun kesepuluh dari kenabian beberapa hari setelah wafatnya Khodijah.
3. Aisyah binti Abu Bakr ash-Shidiq RA, putrid dari Abu Bakr ash-Shidiq yang waktu dilamar masih berusia 7 tahun sedang perkawinannya berlangsung 2 tahun kemudian. Aisyah sendiri merupakan satu-satunya gadis yang dinikahi oleh Rasulullah SAW.
4. Hafshah binti Umar bin al-Khatab RA, putrid dari Umar Ibn’l-Khatab. Sebelumnya Hafhsa adalah istri Khunais bin Hudzafah As-Sahmi (yang termasuk orang yang mula-mula masuk Islam) yang sudah meninggal 7 bulan lebih dulu sebelum perkawinannya dengan Muhammad.
5. Zaynab binti Khuzayma RA, merupakan istri ‘Ubaida bin’l-Harith bin’l-Muttalib yang telah mati syahid, gugur dalam perang Badr. Dia tidak cantik namun terkenal karena kebaikan hatinya dan suka menolong orang sehingga diberi gelar Umm’l-Masakiin (ibu orang-orang miskin). Tak lama setelah pernikahannya dengan Muhammad SAW (1-2 tahun setelah menikah), ia pun meninggal.
6. Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah RA, sebelumnya menikah dengan Abu salamah, akan tetapi suaminya tersebut meninggal di bulan Jumada Akhir tahun 4 Hijriyah dengan menngalkan dua anak laki-laki dan dua anak perempuan. Ia dinikahi oleh Rasulullah SAW pada bulan Syawwal di tahun yang sama. Alasan beliau menikahinya adalah untuk menghormati Ummu Salamah dan memelihara anak-anak yatim tersebut.
7. Zainab binti Jahsyi bin Royab RA, merupakan putrid Umaima binti Abd’l-Muttalib, bibi Rasulullah SAW dan dibesarkan di bawah asuhan Nabi SAW. Dan dengan bantuannya pula lalu Zainab dinikahkan dengan Zaid bin Haritha (yang merupakan bekas budak yang dibebaskan oleh Muhammad SAW lalu diangkat anak). Namun rupanya Zainab terlalu angkuh untuk menjadi istri seorang bekas budak sehingga ia tidak mau tunduk dan tak mudah ditaklukan oleh suaminya. Zaid pun mengeluh kepasa Nabi dan meminta izin hendak menceraikannya namun dijawab oleh Nabi, “Jaga istrimu, Jangan diceraikan. Hendaknya engkau takut kepada Allah.” Namun Zaid yang tidak tahan dengan kelakuan istrinya pun menceraikan Zainab. Zainab pun akhirnya dinikahi oleh Rasulullah. Pernikahan tersebut adalah atas perintah Alloh SWT untuk menghapus kebiasaan Jahiliyah dalam hal pengangkatan anak dan juga menghapus segala konskuensi pengangkatan anak tersebut.
8. Juwairiyah binti Al-Harith bin Abi Dzirar RA, merupakan salah satu tawanan perang Banu Mushtaliq. Sebagai tawanan, ia jatuh menjadi bagian salah seorang Anshar dan dia merupakan putrid seorang pemuka Banu Mushtaliq yang ayahnya mampu menembus berapa saja yang diminta, maka tebusan yang diminta ini cukup tinggi. Khawatir akan membawa akibat yang melampaui batas, Juwaira pergi menemui Nabi yang sedang berada di rumah Aisyah. Kedatangannya tidak lain meminta bantuan Nabi mengenai penawaran tebusan tersebut. Lalu dijawab oleh Nabi:
“Maukah engkau dengan yang lebih baik dari itu?”
“apa?” Tanya Juwairiyah.
“Saya penuhi penawaranmu dan saya nikah dengan kau.”
Setelah berita itu tersiar, sebagai penghormatan Rasulullah kepada Banu Mushtaliq, semua tawanan perang yang ada di tangan mereka segera dibebaskan. Aisyah berkata, “tak pernah saya lihat ada seorang wanita lebih besar membawa keuntungan buat golongannya seperti ini.”
9. Shofiya binti Huyayy bin Akhtab RA (Banu-Nadzir), merupakan ibu Banu Nadzir dan Banu Quraidza yang oleh kaum muslimin diambil dari benteng Khaibar. Dia dulunya adalah istri Kinana bin’l-Rabi. Setelah wanita itu dimerdekakan, kemudian ia diperistri oleh Nabi seperti biasanya dilakukan oleh orang-orang besar yang menang perang. Namun, khawatir akan timbulnya dendam kepada Rasul dalam hati wanita itu maka semalaman itu dalam perjalanan pulang dari Khaibar, Abu Ayyub Khalid al-Anshari dengan membawa pedang terhunus berjaga-jaga disekitar kemah tempat pernikahan Rasulullah SAW dengan Shofiya karena kuatir akan keselamatan Nabi. Akan tetapi sampai wafatnya Nabi ternyata Shofiya sangat setia kepadanya. Setelah Nabi wafat, Shofiya masih mengalami masa khilafat Mu’awiyah. Pada masa itulah ia meninggal dan dimakamkan di Baqi’.
10. Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan RA, sebelumnya ia dinikahi oleh Ubaidillah bin Jahsy dan hijrah bersamanya ke Habsyah. Suaminya tersebut murtad dan menjadi nashroni dan meninggal di sana. Ummu Habibbah tetap istiqomah terhadap agamanya. Ketika Rasulullah SAW mengirim Amr bin Umayyah Adh-Dhomari untuk menyampaikan surat kepada raja Najasy pada bulan Muharrom tahun 7 Hijrah. Nabi mengkhitbah Ummu Habibah melalu raja tersebut dan dinikahkan serta dipulangkan kembali ke Madinah bersama Surahbil bin Hasanah. Sehingga alasan yang paling kuat adalah untuk menghibur beliau dan memberikan sosok pengganti yang lebih baik baginya. Serta penghargaan kepada mereka yang hijrah ke Habasyah karena mereka sebelumnya telah mengalami siksaan dan tekanan yang berat di Mekkah.
11. Maria al-Qibthiyah RA, ketika Nabi mengirimkan surat yang berisikan ajakan memeluk islam ke Muqauqis (pembesar kopti di Mesir), jawaban Muqauqis adalah ia memang percaya bahwa seorang Nabi akan dating tapi di Syam. Lalu Muqauqis mengirimkan hadiah berupa seekor bagal putih, seekor himar, sejumlah harta dan bermacam-macam produksi Mesir serta dua orang dayang bernama Maria dan Sirin. Sirin dihadiahkan oleh Nabi kepada Hassan bin Thabit sedangkan Nabi menikahi Maria yang kemudian melahirkan Ibrahim yang merupakan satu-satunya putra Rasulullah SAW. Karena sampai saat itu status Maria masih sebagai hamba sahaya, oleh karena itu tempatnya tidak di samping masjid seperti istri-istri Nabi yang lainnya melainkan ditempatkan di ‘Alia, di bagian luar kota Madinah yang sekarang diberi nama Masyraba Umm Ibrahin.
12. Maimunah binti al-Harits RA, saudarinya Ummu Al-Fadhl Lubabah binti Al-Harits. Ia adalah seorang janda yang sudah berusia lanjut, dinikahi di bulan Dzul Qa’dah tahun 7 Hijrah pada saat melaksanakan Umroh Qadho.

Alangkah hinanya mereka yang menghina Nabi Muhammad SAW dengan sebutan maniak sex tanpa mengetahui seluk-beluk dibalik alasan pernikahan-pernikahan Beliau. Jika memang Beliau adalah seorang maniak sex, mengapa Beliau memilih menikahi janda yang belum tentu mampu menghasilkan anak baginya? Jika memang Beliau adalah seorang maniak sex, tentunya ia bisa memperistri gadis cantik yang masih perawan dengan mudahnya karena statusnya sebagai Nabi. Namun tidak! Sesungguhnya dibalik pernikahan Nabi dengan banyak wanita ini secara tidak langsung mengajarkan kepada kita (terutama kaum lelaki) dalam hal memelihara dan merawat janda. Bayangkan, di jazirah Arab sana, pada masa Nabi Muhammad SAW bahkan sampai sekarang, status janda dianggap hina dan selalu dipandang rendah. Sehingga untuk menghilangkan persepsi seperti itu, nabi menikahi janda. Dan semua istri Nabi adalah janda selain Aisyah RA. Selain itu, mengingat petunjuk dari Al-Quran dan Al-Hadist yang menyatakan bahwa salah satu tanda akan datangnya kiamat adalah perbadingan pria dan wanita yang mencapai 1:50. Bisakah bayangkan betapa banyak wanita-wanita yang terlantar karena tak memiliki suami? Itulah sebabnya dalam islam, poligami dianjurkan. Maha Besar Allah dengan segala ilmu pengetahuan-Nya.
Hinaan lain yang sering dilontarkan kaum kafir dan para orientalis adalah Nabi seorang phedophillia karena menikahi Aisyah yang waktu itu masih berumur 7 tahun. Sesungguhnya pernikahan Nabi dengan Aisyah waktu itu tidak lain adalah untuk mempererat ikatan persaudaraannya dengan Abu Bakar. Dengan menikahi Aisyah, maka hubungan beliau dengan Abu Bakar menjadi sangat kuat dan mereka memiliki ikatan emosional yang khusus. Posisi Abu Bakar sendiri sangat pending dalam dakwah Rasulullah SAW baik selama beliau masih hidup dan setelah wafat. Abu Bakar adalah khalifah Rasulullah yang pertama yang di bawahnya semua bentuk perpecahan menjadi sirna. Selain itu Aisyah ra adalah sosok wanita yang cerdas dan memiliki ilmu yang sangat tinggi dimana begitu banyak ajaran Islam terutama masalah rumah tangga dan urusan wanita yang sumbernya berasal dari sosok ibunda muslimin ini.
Selain itu menjawab tameng-tameng dari para laki-laki muslim sendiri yang memutuskan melakukan poligami dengan alas an mengikuti jejak Rasulullah, ingatlah bahwa poligami itu diperbolehkan dengan syarat: harus bias berlaku adil kepada semua istri!. Namun Allah sendiri menyangsikan adanya laki-laki yang dapat berlaku adil kepada istrinya, maka diturunkanlah Al-Quran surat An-Nisaa’ ayat 4 yang berbunyi:
“dan kamu sekali-kali tidak dapat berlaku adil di antara isteri-isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu kamu janganlah cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S An-Nisaa’:4).
Ayat tersebut sendiri turun setelah nabi merasa resah terhadap kelakuan istri-istrinya yang menganggap Nabi berlaku tak adil kepada mereka. Waktu itu setelah kelahiran Ibrahim, Nabi lebih sering mengunjungi Maria dibandingkan dengan istri yang lainnya. Setelah Maria melahirkan Ibrahim, rasa iri hati pada istri-istri Nabi telah melampaui batas, sehingga ketika terjadi percakapan antara ia dan Aisyah, Aisyah menolak menyatakan adanya persamaan rupa Ibrahim dengan Nabi itu, dan hampir-hampir pula menuduh Maria yang bukan-bukan, yang oleh Nabi dikenal bersih. Pernah terjadi ketika suatu hari Hafsha pergi mengunjungi ayahnya dan bercakap-cakap di sana, Maria datang kepada Nabi tatkala ia sedang di rumah Hafsha dan agak lama. Bila kemudian Hafsha kembali pulang dan mengetahui ada Maria di rumahnya, ia menunggu keluarnya Maria dengan perasaan cemburu. Makin lama ia menunggu, cemburunya pun makin menjadi. Bilamana kemudian Maria keluar, Hafsha masuk menjumpai Nabi dan berkata, “saya sudah melihat siapa yang dengan kau tadi. Engkau sungguh telah menghinaku. Engkau tidak akan berbuat begitu kalau tidak kedudukanku yang rendah dalam pandanganmu!”
Begitulah sekelumit kisah dari pernikahan Nabi yang bahkan istri-istrinya sering merasakan cemburu karena merasa Nabi tidak adil dengan mereka. Tidaklah mungkin kita yang orang biasa tidak condong ke salah satu isri. Pastinya ada istri yang lebih dicintai. Seperti halnya Aisyah, istri yang paling dicintai Nabi.
Tambahan lagi, bila ada yang mengatakan poligami dengan mengikuti jejak Rasul, dll, dsb. Apakah mereka yakin menikah tanpa terdorong oleh hawa nafsu seperti halnya Rasulullah SAW.
Rasulullah jelas-jelas telah memberikan pedoman yang sejelas-jelasnya dalam hal poligami ini. Ingat, Rasul tidak menikah dengan wanita lain sebelum istri pertamanya meninggal!!! Selama pernikahannya dengan Khadijjah RA, ia tidak menikah padahal saat itu Nabi masih muda. Saat itu hanya Khadijjah lah yang dicintai oleh Nabi. Bahkan dalam suatu riwayat pernah disebutkan, bahwa satu-satunya perempuan yang dicemburui Aisyah adalah Khadijjah. Padahal seumur hidupnya sama sekali Aisyah tidak pernah bertemu dengannya.
Sungguh Maha Besar Allah yang telah mengirimkan utusan seorang manusia yang berakhlak amat mulia seperti Rasulullah SAW.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s