Posts Tagged ‘motif tindakan sosial’

Pengetahuan berbeda dengan Ilmu pengetahuan. Pengetahuan adalah apa yang diketahui oleh manusia atau hasil pekerjaan manusia menjadi tahu.  Pengetahuan itu merupakan milik atau isi pikiran manusia yang merupakan hasil dari proses usaha manusia untuk tahu. Contoh: mbah Marijan yang berdasarkan pengetahuannya, dia tahu bahwa gunung Merapi akan segera meletus, untuk itu ia menyuruh agar warga segera mengungsi. Ia menentang semua pendapat para scientis bahkan sultannya.

Sementara itu ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang telah disusun secara sistematis. Ilmu pengetahuan merupakan suatu sudut pandang atau cara pandang terhadap kenyataan.

Ilmu pengetahuan terbagi menjadi 2, yaitu:

1.       Ilmu pengetahuan social , obyek yang dipelajari adalah tentang realitas social, gejala social, serta aspek-aspek yang berhubungan dengan manusia dan lingkungannya. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif.

2.       Ilmu pengetahuan alam, obyek dan dipelajari adalah gejala alam, realitas fisik.  Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif.

Sosiologi berasal dari bahasa latin: socius—kawan, teman dan logos—ilmu pengetahuan.

Sosiologi merupakan salah satu cara pandang dalam pengetahuan social. Sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami keadaan social manusia dengan memusatkan perhatian pada masyarakat, organisasi social, kelembagaan, interaksi dan masalah social. (Charon, 1980).

Manusia menjadi social melalui 4 cara (Charon, 1980):

1.       Manusia adalah makhluk tersosialisasiàmanusia saling berhubungan dengan manusia lain

2.       Manusia adalah actor socialàmanusia berlakon bagi sesamanya dan bisa mempengaruhi komunitasnya. Contoh: obama sebagai presiden; ayah-ibu.

3.       Manusia membentuk pola-pola social; contoh: group, organisasi; ketika ada orang yang meninggal di desa, ada pembagian siapa yang memandikan, siapa yang mengkafankan, menshalatkan, dll.

4.       Individu-individu manusia tergantung satu sama lain untuk dapat bertahan

Berikut ini adalah beberapa tokoh penting dalam ilmu sosiologi beserta teori-teori mereka:

1.       Aguste Comte (bapak sosiologi). Menurut Comte, masyarakat berkembang mengikuti hukum-hukum positif. Masyarakat berkembang melalui tiga tahapan yang disebut “perspektif evolusi”:

a.       Tahap teologis adalah tingkat pemikiran manusia bahwa semua benda di dunia mempunyai jiwa dan itu disebabkan oleh suatu kekuatan yang berada di atas manusia. Pemikiran bahwa gejala-gejala yang terjadi disekelilingnya ditafsirkan secara teologis (kekuatan roh/dewa/Tuhan). Contoh: terjadi banjir bandang yang kemudian ditafsirkan bahwa: Tuhan sedang marah.

b.      Tahap metafisis; pada tahap ini manusia menganggap bahwa di dalam setiap gejala terdapat kekuatan-kekuatan atau inti tertentu yang pada akhirnya akan dapat diungkapkan. Oleh karena adanya kepercayaan bahwa setiap cita-cita terkait pada suatu realitas tertentu dan tidak ada usaha untuk menemukan hukum-hukum alam yang seragam.

c.       Tahap positif adalah tahap di mana manusia mulai berpikir secara ilmiah. Semua gejala itu nyata dan konkrit dan dikaji berdasarkan ilmu pengetahuan.

2.       Emile Durkheim, seorang ilmuwan social Perancis yang berhasil melembagakan sosiologi sebagai sebuah disiplin akademis. Konsep solidaritas social merupakan konsep sentral Emile Durkheim dalam mengembangkan teori sosiologi. Solidaritas social merupakan suatu keadaan hubungan antara individu dan/atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama dan diperkuat oleh pengalaman emosional bersama. ada 2 tipe solidaritas:

a. Solidaritas mekanik yaitu suatu solidaritas pada masyarakat yang masih sederhana, di mana di dalamnya didasarkan atas dasar persamaan dan belum terdapat pembagian kerja. Contoh: Ikatan Dokter Indonesia.

b. Solidaritas organic muncul karena pembagian kerja bertambah besar. Solidaritas ini didasarkan pada tingkat saling ketergantungan yang tinggi yang bertambah sebagai hasil dari bertambahnya spesialisasi dalam pekerjaan karena bertambahnya perbedaan di kalangan individu. Contoh:  di suatu pabrik tekstil, para buruhnya terspesialisasi pekerjaannya. Ada yang bertugas menjahit, ada yang bertugas memborsir, dsb.

3.       Marx Weber, berasal dari Jerman. Ia mengungkapkan bahwa ada empat tipe ideal motif yang mendasari setiap tindakan social yang dilakukan oleh manusia. Keempat motif itu adalah sebagai berikut:

a.       Rasional instrumental: suatu tindakan social didasarkan pada motif-motif efisiensi dan efektivitas pencapaian tujuan. Contoh: ketika besok akan ujian, Santi berusaha untuk tidak begadang sambil belajar semalaman, karena belajar semalan sambil begadang itu sangat tidak efisien dan akan mengganggu kesehatannya.

b.      Rasional berorientasi nilai: motif-motif pengejaran nilai-nilai social tertentu. Contoh: Rudi melakukan shalat tarawih 23 rakaat karena dia adalah orang NU. Dia melakukan shalat tarawih dengan jumlah rakaat 23 karena nilai-nilai itulah yang berlaku di NU.

c.       Tindakan tradisional: motif kepatuhan terhadap tradisi atau adat istiadat. Contoh: mengusap wajah setelah berdoa bagi orang muslim.

d.      Tindakan afektif: motif-motif pelampiasan emosi atau perasaan. Contoh: melakukan puasa untuk mendapatkan perasaan tenang dan tentram dalam hati.

4.       Karl Marx, asal Jerman yang melahirkan pemikiran-pemikiran sosialisme. Ada 2 kelas masyarakat yang bersebrangan:

a.       Kelas kapitalis (pemodal): mengeksploitasi kelas buruh untuk mendapatkan surplus yang sebesar-besarnya.

b.      Kelas buruh (pekerja)

Marx menganjurkan masyarakat yang tanpa kelas. Teori Marx ini nantinya berkembang menjadi teori kapitalis.

Konsep dasar sosiologi:

1.       Struktur sosialàpola-pola hubungan sosial, seperti: hubungan perkawinan, hubungan kekerabatan; posisi-posisi sosial seperti: Pak Tonny sebagai dosen, saya sebagai mahasiswa.

2.       Tindakan sosialàcara bagaimana individu dan grup sosial membuat kehidupan sosialnya menjadi seperti yang diinginkannya (terkait teori Marx Weber mengenai motif yang mendasari tindakan sosial).

3.       Integrasi fungsionalàkesaling-tergantungan di antara unsur-unsur dari suatu sistem sosial. Contoh: dalam sebuah keluarga terdapat kesaling-tergantungan di dalamnya di mana anggota-anggota dalam keluarga memiliki perannya masing-masing.

4.       Kekuasaanàkemampuan suatu actor sosial mengerahkan pihak lain untuk melaksanakan keinginannya.

5.       Kebudayaan

Aras sosiologi (Charon, 1980):

1.       Aras masyarakat

2.       Aras organisasi sosial

3.       Aras institusiàcontoh: keluarga, polisi, pengadilan,etc

4.       Aras mikroàhubungan antara individu satu dengan individu lainnya

5.       Aras masalah sosialàcontoh: kemiskinan, KDRT, ketimpangan sosial, dll

Pendekatan obyektifàmenggunakan pandangan obyektif yakni pandangan yang umum berlaku dalam masyarakat. Kutub obyektivis ini dipelopori oleh Emile Durkheim. Pendekatan obyektif menggunakan ukuran obyektif yang baku dan pendekatannya kuantitatif yang bersifat positivistic. Dalam pendekatan ini fakta sosial adalah kumpulan tindakan-tindakan sosial individual yang dapat diukur secara empiris dan secara positif dinyatakan sebagai suatu angka sosial.

Pendekatan subyektif dipelopori oleh Weberianàmenggunakan metode kualitatif. Dalam pendekatan ini, fakta sosial tidak di luar tapi “melekat” pada individu.