Persepsi adalah suatu proses berpikir yang melibatkkan pengolahan informasi, pemberian nama, deskripsi dan pemaknaan dari stimulus yang tertangkap oleh panca indera. Persepsi merupakan suatu proses kgnitif yang dialami oleh setiap orang dalam memahami informasi tentang lingkungannya. Sementara itu, persepsi social (social perspective) adalah suatu proses yang kita gunakan untuk mencoba memahai orang lain.

Ketika kita ingin mengetahui perasaan orang lain, orang lain tak selalu bersedia menceritakan perasaanya yang terdalam kepadda kita. Sebaliknya, mereka justru berupaya keras menyembunyikannya atau bahkan berdusta pada kita tentang emosi kita saat itu (DePaulo dkk., 1996 dalam Forrest & Feldman, 2000). Maka dari itu kita sering berusaha memperoleh informasi secara tidak terlalu langsung: memperhatikan petunjuk nonverbal (nonverbal cues) yang tampil melalui ekspresi wajah, kontak mata, postur, gerak tubuh, dan berbagai tingkah laku ekspresif lainnya.

A. Komunikasi Nonverbal

Komunikasi nonverbal adalah komunikasi antar individu tanpa melibatkan isi bahasa lisan, namun mengandalkan bahasa-bahasa nonlisan melalui ekspresi wajah, kontak mata, dan bahasa tubuh. Perilaku nonverbal relative tak bisa dikekang dan sulit dikontrol. Petunjuk nonverbal yang ditampilkan oleh seseorang dapat mempengaruhi perasaan kita meskipun kita tidak secara sadar memperhatikan petunjuk ini, ataupun sengaja membaca perasaannya. Penularan emosional (emotional contagion) merupakan suatu mekanisme yang mentransfer perasaan secara otamatis dari satu orang ke orang lain. Contohnya, saat mendengar berpidato, nada suara pembicara bisa mempengaruhi perasaan kita. Saluran-saluran komunikasi nonverbal ada 4, yaitu:

  1. Ekspresi wajah. “Wajah adalah gambaran jiwa” yang berarti perasaan dan emosi manusia seringkali terbaca di wajahnya dan dapat dikenali melalui berbagai ekspresinya.  Terdapat 6 emosi dasar manusia yang terlihat jelas dan telah dipelajari sejak kecil: marah, takut, bahagia, sedih, terkejut, dan jijik (Izard, 1991; Rozin, Lowery & Elbert, 1994). Makna ekspresi wajah tidak berlaku secara penuh berlaku universal di seluruh dunia (perbedaan budaya dan konstektual memang ada dalam mengartikan ekspresi wajah yang tepat).
  2. Kontak mata. “mata adalah jendela hati” yang berarti kita bisa mengetahui perasaan orang lain melalui tatapan matanya. Kontak mata yang tinggi ontensitasnya bisa diartikan sebagai bentuk rasa suka atau perasaan positif lainnya, ada satu pengecualian. Bila seseorang memandangi kita terus menerus dan mempertahankan kontak mata ini tanpa peduli apapun yang sedang kita kerjakan, pandangan ini disebut staring (menatap).
  3. Bahasa tubuh (gesture, postur dan gerakan). Bahasa tubuh acapkali mengungkapkan keadaan emosional seseorang. Makin banyak pola gerakan tubuh juga menyimpan makna tersendiri. Sementara gesture terbagi menjadi beberapa kategori, namun satu yang terpenting adalah emblem (gerakan tubuh yang menyiratkan makna khusus menurut budaya tertentu).
  4. Sentuhan. Sentuhan yang dirasa tepat seringkali membangkitkan perasaan positif dalam diri orang yang disentuh. Jabat tangan mengungkapkan banyak hal tentang orang lain misalnya kepribafiannya—dan bahwa jabat tangan yang kuat adalah teknik yang baik untuk menampilkan kesan pertama yang menyenangkan pada orang lain.

B. Atribusi

Atribusi adalah proses dimana kita mencoba mencari informasi mengenai bagaimana seseorang berbuat dan mengapa mereka berbuat demikian. Banyak Teori-teori yang membahas tentang atribusi, namun kita hanya akan membahas Teori Kelley, “Theory Of Causal Attribution”.

Dalam teori ini, perilaku seseorang bisa disebabkan oleh factor internal (sifat, motif, intense), factor eksternal (aspek-aspek fisik dan social) maupun kombinasi keduanya. Menurut teori ini, ada 3 sumber informasi penting untuk menjawab mengapa dalam perilaku orang lain, yaitu:

  1. Consensus, yaitu derajat kesamaan reaksi orang lain terhadap stimulus atau peristiwa tertentu dengan orang yang sedang kita observasi. Makin tiggi orang bereaksi serupa, makin tinggi konsesinya.
  2. Konsistensi, yaitu derajat kesamaan reaksi seseorang terhadap suatu stimulus atau suatu peristiwa yang sama pada waktu yang berbeda.
  3. Distingsi, yaitu derajat perbedaan reaksi seseorang terhadap berbagai stimulus atau peristiwa yang berbeda-beda.

Kita mengatribusikan perilaku oranglain pada penyebab internal bila tingkat consensus dan distingsi rendah namun konsistensi tinggi. Sebaliknya, kita mengatribusi perilaku orang lain pada penyebab eksternal bila konsensus, distingsi dan konsistensi tinggi. Kita bisa mengatribusi perilaku oranglain pada penyebab kombinasi factor internal dan eksternal bila konsensusnya rendah namun distingsi dan konsistensinya tinggi. Beberapa penyebab internal seperti kepribadian dan temperamen, cenderung stabil dan bertahan lama, motif, kesehatan, kelelahan, penyakit kronis, dll.

C. Elemen Social

Ada 3 elemen yang merupakan petunjuk tidak langsung ketika menilai seseorang:

  1. Elemen pribadi. Proses pembentukan persepsi social berdadasarkan penilaian pribadi, antara lain yang dilakukan dengan cepat, ketika melihat penampilan fisik seseorang. Misalnya: ciri-ciri penampilan fisik, jenis kelamin, suku/ras, status social ekonomi, fashion, pekerjaan, dll.
  2. Elemen situasi. Semakin kaya pengalaman hidup seseorang, semakin bijak persepsi social yang dibentuknya dari situasi. Contoh: seorang dosen yang berjalan dengan seorang wanit. Bila mereka berjalan di kampus, orang akan menilai itu hanyalah mahasiswanya. Namun, bila berjalannya di bioskop orang bisa menilai kalau wanita itu selingkuhannya.
  3. Elemen perilaku. Perilaku membutuhkan bukti-bukti yang dapat diamati untuk mengidentifikasikan aktivitas seseorang.

D. Sumber Kesalahan (Bias) Dalam Atribusi

  1. Bias korespondensi: kecenderungan untuk menjelaskan sumber perilaku orang lain dari disposisi-disposisi yang ada, bahkan bila penyebab situasionalnya jelas-jelas hadir. Contoh: Alex menumpahkan kopi ke bajunya. Kita mempersepsikan bahwa, “Ah, si Alex memang canggung orangnya”. Padahal bisa saja cangkir yang dipegangnya itu terlalu panas.
  2. Efek actor-pengamat: kecenderungan untuk mengatribusikan perilaku kita lebih pada factor situasional (eksternal) daripada disposisional (internal), sementara perilaku orang lain disebabkan factor disposisi (internal). Contoh: bila saya dan Andi sama-sama gagal dalam ujian. Saya akan menilai diri saya gagal karena soalnya terlalu susah, tidak ada waktu untuk belajar, atau dosennya pelit nilai. Sementara kita menilai Andi gagal karena memang dia tidak mampu/ tidak pintar.
  3. Bias mengutamakan diri sendiri (self serving bias): kecenderungan untuk mengatribusi kesuksesan pada factor internal, namun mengatribusikan kegagalan pada factor eksternal. Contoh: ketika saya berhasil, saya menilai bahwa itu semua karena kerja keras saya, karena saya memang hebat, dsb. namun ketika saya gagal, saya cenderung menyalahkan factor eksternal seperti: karena dosennya pelit nilai, soalnya tidak sesuai materi, dll.
  4. Berpikir irrasional (magic): kecenderungan untuk mempercayai bahwa kekuatan pikiran bisa mempengaruhi kejadian atau objek fisik di luar diri.

E. Pembentukan Kesan (Impression Formation)

Pembentukan pesan adalah proses di mana kita membentuk kesan tentang orang lain. Bagaimana kesan pertama yang dibentuk dapat mempengaruhi penilaian atau keputusan kita tentang orang lain. Pembentukan kesan pertama terhadap seseoerang yang baru bertemu terjadi dalam waktu sangat pendek, relative singkat. Penyebabnya adalah implicit personality theory, yairu kecenderungan menggabungkan beberapa sifat sentral dan peripheral (contoh: orang cantik pasti baik). Kesan pertama seringkali salah karena lebih percaya teori sendiri daripada kenyataan. Perspektif kognitif dalam pembentukan pesan telah memberikan peran openting dalam usaha memahami karakteristik dan proses pembentukan kesan.

F. Manajemen Kesan

Manajemen kesan adalah usaha seseorang untuk menampilkan  kesan pertama yang disukai pada orang lain. Manajemen kesan ada 2 bentuk:

  1. Strategi self-enhancement: usaha untuk meningkatkan daya tarik diri pada orang diri pada orang lain, meliputi meningkatkan penampilan fisik melalui gaya berbusana, charisma diri, dan penggunaan berbagai atribut sehingga berusahga membuat deskripsi diri yang positif.
  2. Strategi other-enhancement: upaya untuk membuat orang yang dituju merasa nyaman dalam berbagai cara. Misalkan dengan pujian (membuat pernyataan yang memuji orang yang kita tuju, sifat-sifat atau kesuksesannya) atau menyatakan terang-terangan persetujuan kita pada pandangan oranglain, menunjukan minat besar pada orang tersebut, member bantuan-bantuan kecil, meminta nasihat dan  umpan balik pada mereka. Atau menunjukan kesukaan dengan cara nonverbal. Namun bisa saja gagal dan terjadi slime effect, yaitu sebuah kecenderunagn untuk membentuk kesan sangat negative terhadap seseorang yang “menjilat ke atas dan menendang ke bawah”.

G. Akurasi Persepsi Sosial

Tingkat akurasi penilaian diketahui dengan membandingkan penilaian dengan penilaian orang yang terdekat dengan orang-orang yang dinilai, dengan perilaku yang dapat diamati. Karakteristik tertentu dapat membuat orang yang memilikinya mengembangkan sifat-sifat tertentu.

Comments
  1. djiesaka says:

    lengkap penjelansannya …
    salam kenal

  2. asep mb says:

    duh makash sob….atas bntuan nya…
    jd tgas ku bsa bres nie…
    salam knal…?

  3. Fajri says:

    Sip., tambah pengetahuan nih. :D

  4. Teo yang Happy says:

    Asmlkm, Jeng Annisa..
    Salut atas blog ini..

    Hmmm, saya mo minta bantuanny donk.. dah bnyk baca tentang atribusi sosial, tp masih bingung mana yang jd aspek, dimensi & faktor dr atribusi sosial..
    mohon bantuanny dg lengkap/jelas y, ketigany itu..

    makasih bgt y sebelumny atas bantuanny..
    salam kenal.. ^^

  5. angga says:

    wahhh mbak anisa,penjelasannya bagus n lengkap,jd tertolong tugas satu neh!!

  6. Aulia Rahmawati says:

    apa gejala-gejala atribusi sosial? tq ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s