Pertumbuhan Penduduk dan Pembangunan Ekonomi

Posted: June 8, 2010 in Uncategorized

Sebagian beasar pertumbuhan penduduk dunia-97%nya berasal dari Negara-negara dunia ketiga. Sejak abad kedua puluh, sebagian besar permasalahan yang menimbulkan gejolak resiko kehilangan nyawa serta lonjakan kematian manusia besar-besaran telah dapat diatasi oleh kemajuan teknologi dan perkembangan ekonomi. Konsekuensinya, tingkat kematian menurun begitu cepat hingga mencapai titik yang terendah sepanjang sejarah manusia. Penurunan angka mortalitas disebabkan oleh kemajuan teknologi di bidang kedokteran. Pertumbuhan penduduk yang begitu pesat dewasa ini disebabkan oleh cepatnya transisi yang melanda kecenderungan penduduk dunia. Yakni, yang semula memiliki angka kematian dan angka kelahiran yang tinggi menjadi angka kematian yang rtendah namun angka kelahiran tetap tinggi.

Tingkat pertambahan penduduk dihitung berdasarkan persentase kenaikan relative atau persentase penurunan relative dari jumlah penduduk neto per tahun yang bersumber dari pertambahan alami dan migrasi internasional neto. Pertambahan alami adalah selisih antara jumlah kelahiran dengan jumlah kematian di suatu Negara (selisih antara fertilitas dengan mortalitas). Migrasi internasional neto adalah selisih antara jumlah penduduk yang beremigrasi dengan yang berimigrasi. Laju pertumbuhan penduduk Negara dunnia ketiga hamper sepenuhnya dihitung berdasarkan angka pertambahan alami. Total tingkat fertilitas atau total fertility rate adalah rata-rata jumlah anak yang akan dimiliki seorang wanita dengan mengasumsikan bahwa tingkat kelahiran saat ini tetap konstan selama masa produktif wanita tersebut.

Penyebab utama perbedaan laju pertumbuhan penduduk antara Negara-negara maju dan Negara-negara berkembang bertumpu pada perbedaan tingkat kelahiran. Kesenjangan tingkat kematian antara Negara-negara maju dan berkembang semakin lama semakin kecil. Penyebab utamanya adalah membaiknya kondisi kesehatan di seluruh Negara-negara dunia ketiga. Bagi kebanyakan Negara berkembang, tingkat kematian bayi telah mengalami penurunan besar selama beberapa decade terakhir sehingga harapan hidup menjadi lebih lama.

Rasio ketergantungan pemuda yakni perbandingan antara pemuda berusia di bawah 15 tahun yang belum berpenghasilan dengan orang dewasa yang produktif berusia 15-65 tahun sangat tinggi di Negara dunia ketiga. Angkatan kerja di Negara sedang berkembang harus menanggung beban hidup anak-anak mereka yang besarnya hamper dua kali lipat dibandingkan dengan angkatan kerja di Negara-negara kaya. Semakin cepat laju pertumbuhan penduduk maka akan semakin besar pula proporsi penduduk berusia muda yang belum produktif dalam populasi total, dan semakin berat pula beban tanggungan penduduk yang produktif. Fenomena inilah yang disebut momentum pertumbuhan populasi/penduduk tersembunyi (hidden momentum of population growth).

Ada 2 alasan pokok yang melatar belakangi teori momentum ini:

  1. Tingkat kelahiran itu sendiri tidak mungkin diturunkan dalam waktu singkat.
  2. Struktur usia penduduk di Negara-negara sedang berkembang dimana dari piramidanya terlihat bahwa penduduk usia muda lebih banyak dari penduduk usia tua yang berarti beban tanggungan tinggi.

Pesan terpenting yang terkandung dalam konsep momentum yang tersembunyi adalah bahwa kelenfgahan penurunan fertilitas sekecil apapun harus dibayar sangat mahal berupa pelipatgandaan jumlah penduduk tanpa dapat dicegah.

Transisi Demografi

  1. Fase I: kelahiran dan kematian tinggi, masyarakat pertanian dengan pendapatan rendah
  2. Fase II: kelahiran tinggi, kematian rendah (pengetahuan kesehatan dan gizi), awal industrialisasi/modernisasi.
  3. Fase III: kelahiran dan kematian rendah (populasi penduduk relatif stabil), masyarakat industri/modern

Teori jebakan populasi Malthus

Jumlah penduduk di suartu Negara akan menigkat sangat cepat sesuai dengan deret ukur atau tingkat geometric. Sementara, karena adanya proses pertambahan hasil yang semakin berkurang dari suatu factor produksi yang jumlahnya tetap, maka persediaan pangan hanya akan meningkat menurut deret hitung atau deret aritmatik. Karena pertumbuhan pengadaan pangan tidak dapat berpacu secara memadai dengan kecepatan pertambahan penduduk, maka pendapatan per kjapita cenderung terus mengalami penurunan sampai sedemikian rendahnya sehingga segenap populasi harus bertahan pada kondisi sedikit di atas tingkat subsisten. Satu-satunya cara untuk mengatasi masalah rendahnya taraf hidup yang kronis tersebut adalah dengan “penanaman kesadaran moral” di kalangan segenap penduduk dan kesediaan untuk membatasi jumlah kelahiran.

Jika pendapatan agregat dari suatu Negara meningkat lebih cepat maka secara definitive pendapatan per kapita juga meningkat. Seandainya pertumbuhan penduduk lebih cepat dari pada peningkatan pendapatan total, maka dengan sendirinya pendapatan per kapita akan menurun. Bila makin banyak penduduk maka saving dan investasi juga makin tinggi sehingga pendapatan per kapita meningkat. Namun jika terlalu banyak saving, pendapatan per kapita bisa menurun.

Bangsa-bangsa miskin tidak bisa bangkit dari pendapatan subsisten tanpa pengendalian preventif (pengendalian kelahiran). Atau, pertambahan penduduk hanya bisa dihambat dengan pengendalian positif (kelaparan, penyakit, perang).

Ada dua kelemahan teori Malthus:

  1. Model ini tidak memperhitungkan kemajuan teknologi dan dampaknya yang besar dalam peningkatan produksi tanah. Jika teknologi dimasukkan dalam model ini maka pada semua tingkat pendapatan per kapita posisinya selalu lebih tinggi dari kurva pertumbuhan penduduk.
  1. Tidak ada korelasi pasti dan jelas antara laju pertumbuhan penduduk dan tingkat pendapatan per kapita di kalangan Negara-negara dunia ketiga. Tingkat kelahiran tidak memiliki hubungan yang baku dengan tingkat pendapatan per kapita.

Yang mempengaruhi tinggi rendahnya pertumbuhan penduduk bukanlah tingkat pendapatan per kapita maupun pendapatan agregat namun bagaimana pendapatan tersebut terdistribusikan.

Alasan penolakan atas model Malthus:

1. Malthus tidak memperhitungkan perkembangan teknologi yg bisa menciptakan increasing return to scale

2. Hipotetis mengenai hubungan (makro) antara pertumbuhan penduduk dengan pendapatan perkapita, secara empiris tidak terbukti.

3. Teori tersebut bertumpu pada variabel ekonomi yang keliru yaitu tkt pendapatan perkapita sebagai determinan utama pertumbuhan penduduk.

Teori Mikroekonomi Fertilitas Rumah Tangga

Teori ini Mengadopsi teori perilaku konsumen konvensional. Anak dianggap sebagai barang konsumsi (tidak memberi keuntungan). Permintaan anak merupakan pilihan ekonomi yang rasional bagi konsumen. Pilihan tsb mengorbankan pilihan (barang) lain. Keinginan punya anak dipengaruhi oleh income, harga anak (biaya hidup) dan keinginan mengkonsumsi barang lain (efek substitusi dan pendapatan).

  1. Permintaan terhadap anak berhubungan positif dengan pendapatan
  2. Permintaan terhadap anak berhubungan negative terhadap harga relative (biaya pemeliharaan) anak serta preferensi untuk barang-barang lain.

Ket:

Cd =permintaan akan anak

Y = pendapatan RT

Pc = harga neto anak

Px = harga barang lain

tx is preferensi terhadap barang lain

artinya, makin tinggi pendapatan, maka permintaan akan anak meningkat

artinya, makin tinggi biaya pemel;iharaan anak, permintaan akan anak menurun

artinya, makin tinggi harga barang-barang lain, permintaan akan anak meningkat

artinya, makin tinggi preferensi untuk barang-barang lain, permintaan akan anak menurun

Ada dua hal yang diperhitungkan dalam memiliki anak:

  1. Biaya opportunitas berupa jatah waktu yang dihabiskan untuk memelihara sang anak sehingga membuang waktu yang digunakan untuk hal-hal produktif.
  2. Biaya pendidikan anak. Jika anaknya sedikit kemungkinan bisa disekolahkan tinggi.

Dengan semakin baiknya tingkat pendidikan kaum wanita, maka mereka semakin berpotensi untuk memberikan kontribusi yang lebih besar dalam keluarga sehingga waktu yang digunakan untuk membesarkan anak terbatas sehingga keinginan untuk memiliki anak berkurang. pentingnya

Tingkat kelahiran di kalangan penduduk miskin akan menurun apabila:

1.Taraf pendidikan wanita meningkat.

2. Kesempatan kerja bagi wanita di non pertanian meningkat.

3. Penghasilan meningkat (kesempatan kerja menciptakan redistribusi pendapatan).

4. Pelayanan kesehatan dan penyediaan gizi meningkat.

5. Sistem jaminan dan tunjangan hari tua.

6. Perluasan kesempatan dalam mendapatkan pendidikan

Konsekuensi Tingginya Tingkat Fertilitas: Pendapat Yang Saling Bertentangan

  1. 1. Pertumbuhan Penduduk Bukanlah Masalah yang Sebenarnya
  2. a. Ada Masalah lain di balik pertumbuhan penduduk
    1. Keterbelakangan
    2. Penyusutan SDA dan kerusakan lingkungan.
    3. Penyebaran penduduk
    4. Rendahnya posisi dan status wanita
    5. b. Pelemparan persoalan palsu secara sengaja

Gagasan yang menempatkan laju pertumbuhan penduduk di Negara dunia ketiga sebagai masalah utama pembangunan adalah suatu rekayasa negative yang dilontarkan oleh Negara-negara kaya yang ingin menghambat kemajuan pembangunan Negara dunia ketiga dalam rangka mempertahankan status quo internasional yang sangat menguntungkan mereka itu.

  1. c. Pertumbuhan penduduk itu perlu

Pertumbuhan penduduk itu bukan suatu masalah melainkan unsure penting dalam pembangunan ekonomi. Peran penduduk;

- pasar potensial

- sumber pasokan tenaga kerja

2. Pertumbuhan penduduk adalah masalah yang sebenarnya

Ada 2 argumentasi:

  1. Argumentasi garis keras: Populasi dan krisis global. Argumen ini mencoba mengkaitkan semua penyakit ekonomi dan social dunia dengan pertambahan penduduk sebagai penyebabnya.
  2. . Argumentasi Teoritis: Siklus populasi-kemiskinan dan pentingnya program Keluarga Berencana. Pembangunan ekonomi dan social yang lebih merata merupakan syarat untuk meredakan laju pertumbuhan pendudk. Program KB sangat diperlukan untuk menyediakan perangkat-perangkat teknologi demi menghindari kehamilan yang tidak dikehendaki.

Konsekuensi negative yang muncul dari ledakan penduduk:

  1. Pendidikan, keluarga besar dengan pendapatan yang rendah memperkecil peluang orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya.
  2. Kesehatan, angka fertilitas yang tinggi beresiko tinggi terhadap kesehatan ibu dan anak.
  3. Ketersediaan bahan pangan, makin banyak jumlah penduduk maka kebutuhan akan pangan juga terus meningkat.
  4. Lingkungan hidup, pertumbuhan penduduk yang pesat ikut memacu proses kerusakan lingkungan.
  5. Migrasi internasional,

Komponen utama dalam consensus mengenai masalah kependudukan:

1. Pertumbuhan penduduk bukan merupakan penyebab utama rendahnya taraf hidup masyarakat Perlu penelusuran sifat dasar tata ekonomi & sosial baik nasional maupun internasional.

2. Persoalan penduduk bukan hanya jumlah tp kualitas hidup dan kesejahteraan material

3. Namun, pertumbuhan penduduk yang cepat mendorong keterbelakangan. Masalah redistribusi spasial.

Kebijakan Negara sedang berkembang untuk menangani masalah kependudukan;

  1. Mempengaruhi masyarakat untuk memilih pola keluarga kecil
  2. Melancarkan program KB
  3. Memanipulasi insentif dan disinsentif ekonomi untuk mengurangi jumlah anak per keluarga
  4. Mengalihkan urbanisasi dengan memperkecil kesenjangan ek dan sosial antara kota & desa
  5. Sanksi
  6. Menaikkan status ekonomi dan sosial wanita

Sumber: Ekonomi Pembangunan Jilid 1, Todaro and Smith

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s