Proses Asimilasi dan Integrasi Etnis Cina di Indonesia Terhadap Keutuhan dan Kesatuan Bangsa

Posted: May 7, 2010 in IPB
Tags: , , , , , , , , , , ,

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang

Indonesia merupakan bangsa yang terdiri dari beragam suku bangsa dan etnik baik yang asli pribumi maupun emigran. Multi-etnik yang dimiliki Indonesia ini dapat berpotensi menghadapi masalah perbedaan, persaingan dan tidak jarang pertikaian antar etnik yang tentunya dapat mengancam keutuhan dan kesatuan Negara Republik Indonesia. Walaupun fenomena etnik secara internal bisa berfungsi integratif, secara eksternal berpotensi konflik.

Orang-orang Etnik Cina atau yang lebih dikenal dengan Etnis Tionghoa sendiri merupakan salah satu etnis minoritas di tengah kemajemukan etnik di Indonesia. Menurut Coppel (1983) dalam Habib (2004)[1], pada tahun 1961, diperkirakan ada sekitar 2,45 juta jiwa Etnik Cina atau sekitar 2,5% dari total penduduk Indonesia. Dari segi tempat tinggal etnis Cina ini, ada perbedaan pola sebaran antar berbagai pulau di Indonesia. Khusus untuk Jawa dan Madura, persentase terbesar (78,4%) bertempat tinggal di wilayah perkotaan, sedangkan sisanya (21,6%) bertempat tinggal di wilayah pedesaan. Etnis Cina sendiri merupakan etnis keturunan asing yang paling banyak jumlahnya sampai sekarang.

Secara umum jumlah penduduk Cina di Indonesia makin bertambah tiap tahunnya sebagaimana terlihat pada tabel berikut:

Tabel 1.1 Pertambahan Penduduk Tionghoa di Indonesia (dalam ribuan)[2]

Tahun Jawa Pulau-pulau luar Jawa Jumlah Seluruhnya
jumlah persen Jumlah Persen
1860 150 67,6 72 32,4 222
1880 207 60,2 137 39,8 344
1895 256 54,6 213 45,4 469
1905 295 52,4 268 47,6 563
1920 384 47,5 425 52,5 809
1930 582 47,2 651 52,8 1.233
1956 1.145 52,0 1.055 48,0 2.200
1961 1.230 50,2 1.220 49,8 2.450

Sumber: Untuk tahun 1860-1930, Department van Economische Zaken, Volkstelling 1930, 7, 39-43; perkiraan tahun 1956 didasarkan pada penduduk yang tercatat seperti yang diterbitkan di dalam Penduduk Indonesia (Jakarta, 1958); angka-angka untuk tahun 1961 merupakan proyeksi yang dibuat oleh penulis dari perkiraan tahun 1956.

Kehadiran Etnis Cina di Indonesia sejak awal pertama sampai para pendatang berikutnya yang secara bergelombang mendarat di Indonesia, telah menimbulkan masalah. Burhanuddin (1988)[3] menyebutkan bahwa masalah yang pertama adalah mengenai identitas mereka sebagai emigrant dari luar kelompok etnis Indonesia dan wilayah Indonesia yang berlangsung hingga Indonesia memperoleh kemerdekaannya, bahkan hingga sekarang ini. Lebih jauh Koentjaraningrat (1964)[4] menyebutkan bahwa walaupun orang Cina di Indonesia telah hidup berabad-abad lamanya, mereka belum juga bisa mengintegrasikan kehidupan mereka dengan cara atau kebudayaan Indonesia, sehingga masih terlihat adanya garis pemisah dalam bentuk kehidupan orang Cina tersebut.

Permasalahan yang ditimbulkan dari kehadiran serta keberadaan Etnis Cina di Indonesia serta hubungannya dengan keutuhan dan kesatuan Indonesia inilah yang akhirnya mendorong penulis untuk menulis Proses Asimilasi dan Integrasi Golongan Etnis Cina di Indonesia Terhadap Keutuhan dan Kesatuan Bangsa sebagai judul tugas makalah akhir untuk matakuliah Berpikir dan Menulis Ilmiah.

1.2       Perumusan Masalah

Dalam menyusun karya ilmiah ini, penulis membuat sejumlah perumusan masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana kehidupan etnis Cina di Indonesia yang merupakan etnis minoritas di Indonesia?
  2. Bagaimana proses asimilasi dan integrasi etnis Cina di Indonesia?
  3. Bagaimana hubungan keberhasilan asimilasi etnis Cina dengan keutuhan dan kesatuan bangsa?

1.3       Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan karya ilmiah ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk menganalisis tentang kehidupan etnis Cina di Indonesia yang merupakan etnis minoritas.
  2. Untuk menganalisis proses asimilasi dan integrasi etnis Cina di Indonesia.
  3. Untuk menganalisis hubungan keberhasilan asimilasi etnis Cina dengan keutuhan dan kesatuan bangsa.

1.4       Manfaat Penulisan

Adapun manfaat dari penulisan karya ilmiah ini adalah sebagai berikut:

  1. Manfaat akademis, yaitu dengan memberikan gambaran umum tentang proses asimilasi etnis Cina di Indonesia serta kaitannya dengan keutuhan dan kesatuan bangsa.
  2. Manfaat social, yaitu tercapainya keutuhan dan kesatuan bangsa melalui asimilasi dan integrasi antaretnik.
  3. Manfaat praktis, yaitu melalui kebijakan-kebijakan menyangkut asimilasi dan integrasi yang lebih baik lagi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1       Pengertian Asimilasi

Asimilasi adalah pembauran dua kebudayaan yang disertai dengan hilangnya ciri khas kebudayaan asli sehingga membentuk kebudayaan baru. Suatu asimilasi ditandai oleh usaha-usaha mengurangi perbedaan antara orang atau kelompok. Untuk mengurangi perbedaan itu, asimilasi meliputi usaha-usaha mempererat kesatuan tindakan, sikap, dan perasaan dengan memperhatikan kepentingan serta tujuan bersama.

Hasil dari proses asimilasi yaitu semakin tipisnya batas perbedaan antarindividu dalam suatu kelompok, atau bisa juga batas-batas antarkelompok. Selanjutnya, individu melakukan identifikasi diri dengan kepentingan bersama. Artinya, menyesuaikan kemauannya dengan kemauan kelompok. Demikian pula antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain.

2.2       Syarat Terjadinya Asimilasi

Asimilasi dapat terbentuk apabila terdapat tiga persyaratan berikut:

  • terdapat sejumlah kelompok yang memiliki kebudayaan berbeda.
  • terjadi pergaulan antarindividu atau kelompok secara intensif dan dalam waktu yang relatif lama.
  • Kebudayaan masing-masing kelompok tersebut saling berubah dan menyesuaikan diri.

2.3       Faktor Pendorong dan Faktor Penghalang

Faktor-faktor yang mendorong atau mempermudah terjadinya asimilasi adalah sebagai berikut:

  • Toleransi di antara sesama kelompok yang berbeda kebudayaan
  • Kesempatan yang sama dalam bidang ekonomi
  • Kesediaan menghormati dan menghargai orang asing dan kebudayaan yang dibawanya.
  • Sikap terbuka dari golongan yang berkuasa dalam masyarakat
  • Persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan universal
  • Perkawinan antara kelompok yang berbeda budaya
  • Mempunyai musuh yang sama dan meyakini kekuatan masing-masing untuk menghadapi musuh tersebut.

Faktor-faktor umum yang dapat menjadi penghalang terjadinya asimilasi antara lain sebagai berikut.

  • Kelompok yang terisolasi atau terasing (biasanya kelompok minoritas)
  • Kurangnya pengetahuan mengenai kebudayaan baru yang dihadapi
  • Prasangka negatif terhadap pengaruh kebudayaan baru. Kekhawatiran ini dapat diatasi dengan meningkatkan fungsi lembaga-lembaga kemasyarakatan
  • Perasaan bahwa kebudayaan kelompok tertentu lebih tinggi daripada kebudayaan kelompok lain. Kebanggaan berlebihan ini mengakibatkan kelompok yang satu tidak mau mengakui keberadaan kebudayaan kelompok lainnya
  • Perbedaan ciri-ciri fisik, seperti tinggi badan, warna kulit atau rambut
  • Perasaan yang kuat bahwa individu terikat pada kebudayaan kelompok yang bersangkutan
  • Golongan minoritas mengalami gangguan dari kelompok penguasa

BAB III PEMBAHASAN

3.1       Etnis Cina di Indonesia

Kehadiran Etnis Cina (atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tionghoa ini) di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang majemuk sudah berlangsung sejak lama. Bahkan jauh sebelum masa kolonial. Hal ini lantaran Etnis Cina atau yang lebih dikenal golongan Tionghoa, sejak masa kerajaan-kerajaan Budha Indonesia sering berimigrasi ke Indonesia untuk tujuan berdagang dan atau memperdalam dan memperluas agama Budha.

Etnik keturunan Cina di Indonesia memiliki banyak sebutan. Achmad Habib (2004)[5] menyebutkan antara lain, Baba dan Tionghoa yang digunakan untuk menunjuk keturunan perpaduan antara laki-laki Cina imigran yang datang ke Indonesia sebelum abad ke-19 dan perempuan lokal atau perempuan yang terlahir dari hubungan demikian. Sementara itu Totok adalah imigran yang datang setelah pergantian abad.

Suryadinata (1999)[6] menyebutkan bahwa Tionghoa dapat dipecah menjadi peranakan yang lahir di Indonesia dan berbahasa Indonesia, serta orang Tionghoa totok yang lahir di dalam atau luar negeri, dan berbahasa Cina. Tionghoa peranakan sebagian besar berdiam di Jawa, sedangkan totok umumnya berdiam di Kepulauan Luar.

Seperti yang telah disebutkan di atas, Etnis Cina di Indonesia merupakan etnis minoritas. Ada sebagian Etnik Cina yang benar-benar diterima oleh kaum pribumi, tetapi ada juga dari mereka yang ditolak dan mendapatkan perlakuan yang diskriminatif. Aksi kekerasan anti-Tionghoa di Nusantara sudah terjadi berulang-ulang pada jangka waktu yang cukup lama.

Pandangan negatif tentang Tionghoa diperparah oleh kebijakan-kebijakan para penguasa Nusantara sejak dari jaman VOC, raja-raja Mataram, Pemerintah Hindia Belanda dan diteruskan sampai kepada pemerintahan Republik Indonesia. Selama Orde Baru berjaya dalam 3 dekade lebih, selama itu pula etnis Cina banyak mengalami diskriminasi. Hal itu terlihat dari adanya beberapa peraturan dan kebijakan yang mengatur eksistensi etnis Cina di Indonesia[7]:

  1. Keputusan Presiden Kabinet No. 127/U/KEP/12/1996 tentang masalah ganti nama.
  2. Instruksi Presidium Kabinet No. 37/U/IV/6/1967 tentang Kebijakan Pokok Penyelesaian Masalah Cina yang wujudnya dibentuk dalam Badan Koordinasi Masalah Cina, yaitu sebuah unit khusus di lingkungan Bakin.
  3. Surat Edaran Presidium Kabinet RI No. SE-06/PresKab/6/1967, tentang kebijakan pokok WNI keturunan asing yang mencakup pembinaan WNI keturunan asing melalui proses asimilasi terutama untuk mencegah terjadinya kehidupan eksklusif rasial, serta adanya anjuran supaya WNI keturunan asing yang masih menggunakan nama Cina diganti dengan nama Indonesia.
  4. Instruksi Presidium Kabinet No. 37/U/IN/6/1967 tentang tempat-tempat yang disediakan utuk anak-anak WNA Cina disekolah-sekolah nasional sebanyak 40% dan setiap kelas jumlah murid WNI harus lebih banyak daripada murid-murid WNA Cina.
  5. Instruksi Menteri Dalam Negara No. 455.2-360/1968 tentang penataan Kelenteng-kelenteng di Indonesia.
  6. Surat Edaran Dirjen Pembinaan Pers dan Grafika No. 02/SE/Ditjen/PP6/K/1988 tentang larangan penerbitan dan pencetakan tulisan/ iklan beraksen dan berbahasa Cina.

Kebijakan-kebijakan yang dibuat semasa Orde Baru tersebut sebenarnya bertujuan untuk pembauran total. Etnis Tionghoa diharapkan dilebur ke dalam budaya pribumi sehingga tercapai asimilasi seperti yang diharapkan. Namun pengistilahan “Tionghoa” sendiri terhadap etnis ini membuat proses asimilasi tersebut sulit dicapai apalagi didukung dengan stereotipi tentang etnis “tionghoa” tersebut.

Dalam beberapa aspek kehidupan, orang Cina peranakan maupun totok lebih banyak berorientasi kepada kultur nenek moyangnya. Bentuk konkret ekonomi etnis Cina cenderung bergerak di bidang perdagangan (retail) dan keuangan, usaha-usaha yang sifatnya bukan usaha besar (karena usaha-usaha vital pengelolaannya dikuasai oleh negara). Perilaku ekonomi yang cenderung proaktif, berbentuk usaha atau perusahaan keluarga, sudah menjadi ciri etnis Cina di kawasan Asia termasuk Indonesia.

3.2       Proses Asimilasi dan Integrasi Etnis Cina di Indonesia

Menurut Koentjaraningrat[8], proses asimilasi akan timbul apabila ada tiga unsure, yaitu: (a) adanya kelompok manusia yang berasal dari lingkungan kebudayaan yang berbeda-beda, (b) individu dan kelompok saling bergaul langsung secara intensif dalam waktu yang cukup lama, dan (c) kebudayaan dari kelompok itu berubah saling menyesuaikan diri.

Burhanuddin (1988) menjelaskan lebih lanjut mengenai asimilasi yaitu:

“…  asimilasi itu proses social yang telah lanjut yang ditandai oleh makin kurangnya perbedaan antara individu dan antarkelompok dan makin eratnya persatuan aksi, sikap dan prose mental yang berhubungan dengan kepentingan dan tujuan yang sama” (Burhanuddin, 1988, h.225).[9]

Sementara itu integrasi adalah proses sosial yang cenderung kepada harmonisasi dan penyatuan bermacam-macam kesatuan yang berbeda-beda yang terdiri dari individu atau kesatuan social yang lebih besar (David L. Sills, 1968 dalam Burhanuddin, 1988)[10].

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Burhanuddin di Polewali, Sulawesi Selatan,  dengan status yang masih asing, para etnis Cina ini agak sukar untuk muncul ke permukaan menghirup udara bebas bersama masyarakat setempat. Selain itu proses pewarganegaraan yang terlalu sulit juga merupakan hambatan utama bagi usaha asimilasi mereka. Namun tanda untuk dapat terciptanya proses asimilasi telah tampak. Hal ini dapat terlihat dari perkawinan campuran, keluarga dari golongan totok yaitu dengan wanita peranakan yang mencapai jumlah 53% dan dengan wanita pribumi sebanyak 7%. Adanya pergaulan yang langsung dan terbuka di mana 33% dari mereka berdiam dan bertetangga dengan masyarakat pribumi, dan 27% berada dalam lingkungan campuran. Dengan menguasai bahasa daerah, di mana 53% tergolong menguasai bahasa daerah dengan baik, komunikasi akan terjadi dengan lancar.

Tabel 2.2 Distribusi Persentase Pemakaian Bahasa Oleh Responden Keturunan Cina di Polewali[11]

R Pemakaian Bahasa
Di Rumah N% Sesama Cina N% Masyarakat N%
C I D C I D C I D
WNA 6 67 27 100 20 33 47 100 - 47 53 100
WNI - 35 65 100 - - 100 100 - - 100 100

Sumber: berdasarkan penelitian Burhanuddin berjudul Ance’ dan Baba hal. 21  yang diterbitkan dalam buku yang berjudul: Stereotip Etnik, Asimilasi, Integrasi Sosial

Dalam kenyataan sehari-hari, kita telah dapat melihat bahwa golongan keturunan Cina di Indonesia telah bergaul secara luas dan intensif dengan suku bangsa di Indonesia. Akan tetapi baru terbatas pada tingkat penyesuaian perorangan dan belum terjadi integrasi. Koentjaraningrat menyebutkan bahwa walaupun orang Cina di Indonesia telah hidup berabad-abad lamanya, mereka belum juga bisa mengintegrasikan kehidupan mereka dengan cara atau kebudayaan Indonesia, sehingga masih terlihat adanya garis pemisah dalam bentuk kehidupan orang Cina tersebut.[12]

Perasaan Chinese Culturalism menjadi salah satu faktor penghambat integrasi etnis Cina di Indonesia. Chinese Culturalism[13] adalah perasaan yang selalu mengagungkan kultur nenek moyang. Perasaan yang mana mengarahkan mereka kepada sikap untuk senantiasa berorientasi kepada budaya leluhur yang mempunyai tradisi lebih dari 3000 tahun. Contohnya Etnis Cina mengandalkan integritas suatu hubungan antar etnis Cina di bidang ekonomi dan kekeluargaan. Sehingga rbentuk usaha atau perusahaan keluarga, sudah menjadi ciri etnis Cina

Leo Suryadinata dalam bukunya berjudul Etnis Tionghoa dan Pembangunan Bangsa menyebutkan bahwa kebijakan pemerintah telah cukup sukses dalam pengertian bahwa lebih banyak Tionghoa totok menjadi peranakan dan lebih banyak Tionghoa peranakan menjadi lebih Indonesia. namun, sebagian kelompok etnis Tionghoa tetap dapat dikenali. Dalam bentuk kebudayaan, orang Tionghoa telah menjadi lebih Indonesia. tetapi penggolongan antarkelompok tetap jelas[14].

3.3       Keutuhan dan Kesatuan Bangsa

Kemajemukan bangsa Indonesia merupakan tantangan besar dalam proses keutuhan dan kesatuan bangsa. Golongan-golongan, etnik-etnik pasti menyimpan potensi konflik. Potensi-potensi konflik yang tesimpan ini tentunya dapat menjadi hambatan dalam mencapai kesatuan, persatuan dan keutuhan bangsa Indonesia bila tidak dimanajemen dengan baik.

Untuk itu keberhasilan proses asimilasi dan integrasi suatu etnis sangat mendukung tercapainya keutuhan dan kesatuan bangsa. Etnis minoritas seperti Etnis Cina juga memiliki peranan dalam pencapaian keutuhan dan kesatuan bangsa Indonesia walaupun jumlah mereka termasuk minoritas diantara kemajemukan suku bangsa di Indonesia.

Proses peleburan dalam sebuah asimilasi harus diarahkan sampai pada suatu kondisi di mana istilah “minoritas Tionghoa” menjadi tak ada. Untuk mencapai kondisi demikian, perlu asimilasi yang komprehensif sekaligus butuh campur tangan pemerintah. Melalui asimilasi, eksklusivitas jadi hilang sehingga terbentuk perasaan saling memiliki. Hal tersebut dapat memperkuat keutuhan dan kesatuan bangsa. Untuk mempercepat pembauran etnis di Indonesia, maka persamaan pandangan, saling belajar, dan saling menghormati antar kelompok etnis sangat diperlukan.


BAB IV KESIMPULAN

4.1       Kesimpulan

Etnis Cina di Indonesia merupakan etnis minoritas di tengah kemajemukan bangsa Indonesia. Asimilasi dan integrasi Etnis Cina di Indonesia masih agak sukar untuk dilakukan meskipun sudah mulai telihat adanya asimilasi dalam bentuk pernikahan dengan peranakan maupun pribumi. Hal ini lantaran Chinese Culturalism yang masih kental dalam diri mereka. Demi tercapainya keutuhan dan kesatuan bangsa, golongan Cina ini mesti dapat berasimilasi dan berintegrasi dengan kaum pribumi di Indonesia.

4.2       Saran

Diperlukan kebijakan-kebijakan pemerintah yang lebih baik lagi untuk tercapainya proses asimilasi dan integrasi Etnis Cina di Indonesia. Selain itu diperlukan kesadaran dari masyarakat khususnya golongan Cina itu sendiri akan pentingnya kesatuan dan persatuan bangsa agar mereka terdorong untuk berbaur dan berasimilasi.

DAFTAR PUSTAKA

Burhanuddin, dkk. 1988. Stereotip Etnik, Asimilasi, Integrasi Sosial. Jakarta: PT Pustaka Grafika Kita.

Encep. 2009. Perilaku Ekonimi Etnis Cina di Indonesia Sejak Tahun 1930-an. (http://kotaudang-sap.blogspot.com/2009/08/perilaku-ekonimi-etnis-cina-di.html, diakses tanggal 4 Januari 2010).

Habib Achmad. 2004. Konflik Antaretnik di Pedesaan: Pasang Surut Hubungan Cina-Jawa. Yogyakarta: LKis Yogyakarta.

Koentjaraningrat. 1964. Pengantar Antropologi. Jakarta: Universitas.

Suryadinata Leo.1999. Etnis Tionghoa dan Pembangunan Bangsa. Jakarta: Pustaka LP3ES.

Tan Melly G. 1981. Golongan Etnis Tionghoa di Indonesia: Suatu Masalah Pembinaan Kesatuan Bangsa. Jakarta: PT Gramedia.


[1] Achmad Habib, Konflik Antaretnik di Pedesaan: Pasang surut Hubungan Cina-Jawa, (Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 2004), h.1.

[2] Mely G Tan, Golongan Etnis Tionghoa di Indonesia: Suatu Masalah Pembinaan Kesatuan Bangsa, (Jakarta: PT Gramedia, 1981),h.4

[3] Burhanuddin dkk. Stereotip Etnik, Asimilasi, Integrasi Sosial. (Jakarta: PT Pustaka Grafika Kita, 1988) h.225

[4] Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi, (Jakarta: Universitas, 1964), h.34

[5] Achmad Habib, Op.Cit., h.10.

[6] Leo Suryadinata, Etnis Tionghoa dan Pembangunan Bangsa, (Jakarta: LP3ES, 1999), h.170.

[7] Encep. Perilaku Ekonimi Etnis Cina di Indonesia Sejak Tahun 1930-an. (http://kotaudang-sap.blogspot.com/2009/08/perilaku-ekonimi-etnis-cina-di.html, 2009, diakses pada 4 Januari 2010)

[8] Koentjaraningrat, Op.Cit., h.147

[9] Burhanuddin dkk, Op. Cit, h.225

[10] Ibid, h.224

[11] Ibid, h.281

[12] Koentjaraningrat, Op.Cit., h.34.

[13] Burhanuddin dkk, Op.Cit, h.222.

[14] Leo Suryadinata, Op.Cit., h.187

About these ads
Comments
  1. A.J.I says:

    thanks, seperti biasa infonya sangat bermanfaat

    TELKOMSEL UNLIMITED ready stock

  2. [...] etnis minoritas di tengah kemajemukan etnik di Indonesia. Menurut Coppel (1983) dalam Habib (2004)[1], pada tahun 1961, diperkirakan ada sekitar 2,45 juta jiwa Etnik Cina atau sekitar 2,5% dari total [...]

  3. amel says:

    4.2 Saran
    Diperlukan kebijakan-kebijakan pemerintah yang lebih baik lagi untuk tercapainya proses asimilasi dan integrasi Etnis Cina di Indonesia. Selain itu diperlukan kesadaran dari masyarakat khususnya golongan Cina itu sendiri akan pentingnya kesatuan dan persatuan bangsa agar mereka terdorong untuk berbaur dan berasimilasi…………………Dalam bagian ini alangkah baiknya jika anda menguraikan lebih jelas lagi apa saran anda untuk memperbaiki asimilasi dan integrasi orang CIna di Indonesia, langkah langkah konkrit seperti apa yang harus dilakukan oleh pemerintah. Menurut saya, integrasi, asimilasi dan pembauran dapat terjadi apabila kedua belah pihak menginginkannya, disamping itu, harus didukung oleh pemerintah dengan berbagai bentuk kemudahan untuk mewujudkannya, antara lain adalah memberikan kemudahan para pelaku pernikahan antar agama, yang sementara ini tidak mempunyai fasilitas. Kendala perbedaan etnis, suku dan budaya sudah merupakan jurang, ditambah lagi dengan kendala perbedaan agama yang merupakan salah satu faktor penyebab tidak adanya pembauran di antaranya.

  4. bob says:

    Masak cuma mau numpang tinggal di negara indonesia aja masa org china mesti asimilasi segala. mang kami anjing! aya aya wae.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s